Sabtu, 04 Maret 2017

Flashback 2

Aku tersadar. Mata ku masih meraba. Aku melihat langit-langit di kamar ku. Aku memalingkan kepala, melihat seseorang yang berada di bawah tempat tidur ku. Dia yang sedang berkutat dengan buku-buku yang dia keluarkan. Aku bangun dari tidur ku. Gerakan tubuh ku membuat sedikit bunyi yang dikeluarkan oleh kasur ku. Sontak dia menoleh ke arah ku. Segera mungkin dia mendatangi ku yang duduk di atas tempat tidur.
"Kau sudah sadar ?", tanya dia dengan wajahnya yang tampak lega melihat ku.
Aku hanya menangguk memberikan jawaban. Tangannya seketika menyentuh pelipis ku.
Dug!
Jantung ku mulai berdetak kencang lagi. Aku menahannya. Aku tidak ingin membuatnya khawatir.
"Ah. Badan kamu tidak panas ? Apa ada yang sakit ?"
Aku menggeleng memberikan jawaban.
"Syukurlah", ucapnya lega
Hening sesaat. Aku memperhatikan dia yang sedang memainkan seprai kasur ku. Beberapa detik kami berdiam. Dia akhirnya membuka pembicaraan.
"Ohya. Kamu sudah makan ? Aku tadi di sekolah tidak makan bekal ku karena kamu tidak datang ke sekolah"
"Belum"
Pelangi terbalik itu terlukis kembali di wajahnya. "Ayo kita makan bekal ku bersama", ajaknya sambil. Dia berlari mengambil tas kecilnya. Lalu mengeluarkan bekal yang dia bawa.
Seperti biasa. Dia membawa roti sandwich buatan Ibunya. Dia menyodorkan bekalnya kepadaku. Aku mengambil 1 roti lapis itu dan memakannya. Aku dan dia saling bertatap sambil memakan roti lapis itu. Lucu sekali melihat pipinya yang besar dengan roti lapis di dalam mulutnya. Aku tertawa kecil melihat wajahnya. Dia memasang wajah 'ada apa ?'. Aku berhenti tertawa dan menelan roti yang sudah ku kunyah.
"Wajah mu... Pipi mu besar dengan roti lapis dalamnya", aku menjelaskan sambil tertawa kecil.
Seketika wajahnya merah padam. Dia tersenyum malu. Aku melihat wajahnya yang kini semakin lucu menurut ku. Namun entah mengapa hal lucu itu berubah menjadi sesuatu yang hangat di dalam dada ku. Rasanya ada yang mebalut dada dengan hangat.
Aku memperhatikannya. Pelangi terbalik itu masih ada pada tempatnya. Namun kini agak berbeda. Dia sedikit malu untuk menyombongkan keindahannya. Tanpa disadari tangan ku mulai mendekati pelangi terbalik itu. Berharap untuk bisa merasakan keindahan yang dimilikinya. Sang pemilik pelangi itu masih tidak menyadari bahwa tangan ku mulai mendekati pelangi miliknya. Aku hampir sampai. Aku hampir bisa merasakan sedikit apa yang membuatnya bisa begitu indah.
Tiba-tiba saja sang pemilik pelangi itu terkejut dengan adanya tangan ku yang mendekatinya. Roti yang dia pegang seketika terjatuh ke baju putih yang dia kenakan. Pandangan ku seketika ke arah jatuhnya roti lapir itu. Bajunya kotor dengan noda saus dan mayones dari roti lapis itu. Aku mencoba untuk membersihkannya.
"Tidak usah. Biar aku saja yang membersihkannya. Tidak apa-apa", ujarnya sambil membersihkan baju putihnya.
Aku memperhatikan dia membersihkan seragamnya. Mata ku beralih ke name tag yang terdapat pada seragamnya. Nurfan Putra. Aku tersenyum senang dengan apa yang sudah ku dapat. Kini aku tahu nama dia. Dia Nurfan. Nurfan. Si pemilim pelangi terbalik yang indah itu. Aku tersenyum sendiri sambil melihat name tag yang dia kenakan.
"Ohiya sudah jam berapa sekarang ?", tanyanya tiba-tiba membuatkan tersadar dari lamunankan.
Kepala ku menengak ke arah jam. "Jam 2", ucapku spontan.
"Aduh gawat!!", ucapnya tiba-tiba.
"Ada apa ?", tanya ku. Dia tidak menjawab pertanyaanku. Dia sibuk membereskan buku-buka yang tadi dia keluarkan. Lalu memasukan kotak bekalnya ke dalam tas.
"Marwa! Besok kamu akan datang sekolah ?", tanya Nurfan.
Aku sungguh tidak yakin. Aku takut bila hal yang membuatku begitu semangat untuk ku dapatkan malah tidak bisa ku dapatkan seperti halnya pagi tadi.
"Kamu besok datang ke sekolah kan ?", tanya Nurfan sekali lagi.
Kepala dengan spontan mengangguk tanpa dikomando. "Baiklah. Akan aku tunggu kamu di sekolah. Sampai ketemu besok", dia berlalu begitu saja.
Aku masih tidak mengerti akan hal yang sudah terjadi. Aku masih terdiam duduk di tempat tidurku. Terdengar suara bibi yang bertanya kepada Nurfan. Aku beranjak dari tempat tidurku. Lalu berlari ke arah jendela. Aku melihatnya yang berlari ke arah gerbang. Sebelum dia menutup gerbangnya. Dia menoleh ke arah jendela kamar ku. Dia tersenyum dan melabaikan tangannya ke arah ku. Tanpa aku sadari, aku tersenyum ke arahnya tanpa membalas lambaian tangan yang dia berikan. Dia berlalu begitu saja.

Senin, 07 November 2016

Flashback

Nurfan adalah sahabat ku sejak kami duduk di bangku SD. Awal pertemuan kami sangat sederhana. Berawal dari Nurfan, pada saat kami SD, dia pulang sekolah sering sekali melewati rumah ku. Kebetulan sekali aku sering melihatnya. Kami saling bertatap dan tersenyum.
Pada suatu hari di sekolah. Pada jam pelajaran olahraga. Dia memperhatikan ku yang sedang menyantap makanan di pinggir lapangan. Dia menghampiri ku lalu duduk tepat di samping ku.
"Kamu mau ?", dia menyodorkan sepotong sandwich miliknya.
Awalnya aku ragu untuk mengambil sepotong sandwich itu. Aku menatapnya dan menatap sandwich itu secara bergantian.
"Ambilah. Ini enak", ucapnya dengan senyuman manisnya.
Mulai dari itu, aku suka sekali ukiran pelangi terbalik yang dia miliki di wajahnya. Aku mengambil roti isi itu, lalu menyantapnya. Dia seperti menunggu sesuatu, memperhatikan wajahnya ku yang sedang mengunyah roti isi itu. Aku meliriknya. Aku memberikan eskpresi 'apa ?’ kepadanya.
"Enak ?"
Aku mengangguk sambil tersenyum. Senyum merekah seketika. Kami saling tertawa bersama.
"Lain waktu kita bisa menukar bekal kita. Kamu berarti harus membawa bekal. Nanti diantara kita saling mengomentari bekal masing-masing. Biar kita tahu, bagaimana rasa masakan Ibu kita masing-masing", pintanya panjang lebar.
Aku hanya terdiam melihat wajahnya yang masih melekat pelangi terbalik di wajahnya. "Bagaimana ? Kamu setuju ?"
Aku melihat makanan yang biasa ku beli di kantin. Ide bagus juga bila membawa bekal, pikir ku pada saat itu. Aku mengangguk.
"Berjanjilah ?", dia mengambil tangan ku dan mengacungkan jari kelingking ku lalu mengaitkannya pada jari kelingking miliknya.
"Baiklah. Mulai besok kau harus membawa bekal mu"
Aku mengangguk dan tersenyum padanya. Dia kembali memberikan pelangi terlabiknya yang begitu indah. Aku sangat terpesona pada ukiran yang dia buat.
Sepulang sekolah aku bergegas mencari ibu di dapur. Tidak ada. Aku mencari di ruang tv. Tidak ada. Aku mencari di kamar tidak ada. Tidak ada
"Bagaimana bisa kau tidak tahu ? Kau sekertasinya, semua data di kamu, kenapa kamu bisa seenaknya tidak tahu. Dengar ! Dengar ! Tolong hubungin pak Ikhsan untuk segera menghubungin saya. Ini lewat jadwal tempo. Bisa gawat kalau tidak diselesaikan. Baiklah, saya tunggu kabarnya. Baik, siang"
Tut ! Bunyi telepon sudah dimatiakan.
Aku hanya terdiam memperhatikan Ibu yang begitu sibuk mencari sesuatu di tasnya. Aku menunggu Ibu selesai dari kesibukannya. Aku tidak berani berbicara bila Ibu sedang kewalahan seperti ini. Beberapa detik kemudian Ibu memalingkan pandangannya ke arah ku. Lalu dia memberikan tatapana 'ada apa ?'. Aku menunduk, memainkan kuku jari tangan ku. Beliau menghampiri ku dan jonkok di depan ku. Dia mulai mengelus kepala ku.
"Ada apa, nak ? Bicara sama Ibu ?", tanyanya dengan nada menenangkan.
Wajah ku ditekukkan. Dengan mulut yang dimajukan, aku memandang iba kepada Ibu.
"Ada apa ? Kamu mau apa sayang ? Bicara sama Ibu", dia merangkul ku lalu membawa ku ke sofa di ruang tamu.
"Ibuuu. Marwa ingin dibawa bekal"
"Bekal ? Bukannya uang jajanmu sudah cukup untuk membeli makanan ?"
"Tapi Marwa ingin bekal"
"Kenapa tiba-tiba Marwa ingin bekal"
Aku menundukan kepala sambil memaindak dasi merah yang ku kenakan. "Marwa ingin bawa bekal seperti teman Marwa. Dia sering mebawa bekal buatan Ibunya. Enak sekali, bu, masakan buatan Ibunya"
"Wah. Teman Marwa yang mana, yah ?"
Aku mencoba mengingat. Aku tersadar, aku tidak tahu nama laki-laki itu. Aku sedikit kecewa. Bagaimana caranya aku akan bertemu dengan dia lagi bila aku tidak tahu namanya. Aku mengela nafas dalam.
"Marwa", panggil Ibu.
"Hmmm", jawab ku sambil memainkan dasi merah ku.
"Kenapa diam ? Siapa nama teman kamu itu ?"
Aku menggeleng, "enggak tahu"
"Loh, kok enggak tahu"
"Aku enggak tahu, bu"
"Memangnya kalian tidak berkenalan"
Aku menggeleng.
"Loh, kok kalian bisa berteman ?"
Aku menggeleng tidak tahu. Ibu merangkul ku dengan hangat, lalu mengelus rambut ku dengan manja.
"Kalau punya teman baru, ajak main ke rumah. Biar ibu tahu siapa saja temen dekat Marwa", Ibu tersenyum.
Aku mengangguk lalu tersenyum
°°°°°
Pagi hari.
"Ibuuuu.."
"Ibuu....", panggil ku sambil mencari keberadaan Ibu.
Aku mencari Ibu di kamarnya tidak ada. Mencari di ruang tv tidak ada. Senyum ke mulai merekah. "Ibu pasti di dapur sedang memasak", batin ku. Aku berlari ke dapur dengan semangat. Aroma masakan tercium lezat di hidung ku. Aku semakin bersemangat.
Brukkkkk!
"Aaawww", aku tersandung meja makan.
Seseorang berlari datang dari dapur, namun aku tidak melihatnya. Untuk aku yang masih seumuran anak SD sangat manja dan juga cengeng. Aku menangis berharap Ibu datang menolong ku. Seseorang merangkul ku dan menolong ku.
"Non, non Marwa enggak apa-apa ?", tanya bibi Noni kepada ku.
Tangisan ku semakin menjadi. Aku berharap Ibu yang datang menolong dan merangkul ku dengan hangat. Tapi mengapa bibi Noni yang menolong ku ? Tangisan ku semakin keras.
"Ibuuuuu. Ibu dimanaa ?", tanya ku dalam tangisan.
"Ibu sudah berangkat dari tadi, non. Ayo ikut sama bibi. Kita obatin lukanya", ajak bi Noni.
Aku menangis sejadi-jadinya. Rasa sakit di kaki ku tidak seberapa rasa kecewa ku terhadap Ibu. "Ibu pergi. Kenapa bukan Ibu yang memasakan bekal untuj ku"
Hari itu aku tidak pergi ke sekolah. Sangat ke kanak-kanakan. Aku berbaring di kamar ku. Aku lemamunkan sosok Nurfan yang dulu belum ku kenal namanya. Aku masih ingat betul lekukan senyum miliknya. Sangat meneduhkan hati.
Tidak sekolah pada saat itu membuat ku bosan. Rasanya ingin aku mengenakan seragam putih merah ku, lalu membawa tas dan bekal ku ke sekolah. Pada saat di sekolah, di situlah aku bisa bertemu dengan Nurfan.
Tiba-tiba saja aku memiliki ide. Aku melirik jam berbentuk kepala Rilakuma di kamar ku. Jam menunjukan pukul 09.35. Aku mengeluh sesaat. Namun aku memiliki ide tambahan.
Aku bergegas membawa boneka Rilakuma, Barnie, Stich, Mickey dan juga Minnie ke ruang tamu. Aku kewalahan membawa semua boneka ku yang berukuran balita.
"Sini, non. Biar bibi bantu", bi Noni membawakan boneka Mickey, Minnie, Stich, dan Barnie.
"Mau dibawa kemana, non ?"
Aku menuruni tangga dan berlari ke ruang tamu. "Bawa ke sink, bi!", ucap ku sambil berteriak.
"Ini dia. Non Marwa kenapa tiba-tiba bawa semua boneka non ke bawah ?", ucapnya.
Aku menggeleng sambil tersenyum sendiri. "Bi, tolong ambilkan makanan di kulkas"
"Siap, non !", bibi beranjak membawa makanan. Dan kembali membawa banyak makanan dari dapur.
"Ini dia ! Ohiya non, bibi tadi pagi masak bekal buat, non. Tapi kebetulan non enggak sekolah, bekalnya bibi simpan di lemari.
"Tolong ke sini saja, bi"
"Baiklah, non Marwa"
Aku tersenyum senang, lalu memalingkan pandangan ke arah luar jendel. Aku menunggu Nurfan pulang sekolah. "Aku akan bertemu di sini", batin ku.
Aku menunggu Nurfan di ruang tamu sambil bermain dengan boneka-boneka ku. Beberapa jam kemudian. Karena merasa bosan dan lelah, aku tidak sadar tertidur di sofa ruang tamu sampai jam 12.45.
Aku terbangun. Jiwa ini masih saja belum menyatu pada raganya. Tanpa sadar pandangan ku melihat ke arah luar jendela. Tiba-tiba saja aku tersadar. Seluruh jiwa ku kembali ke raganya. Dengan cepat aku melirik ke arah jam dinding di ruang tamu. Jam menunjukan pukul 12.50. Aku kecewa sekali pada saat itu. Rasanya ingin menangis. Semua yang ku tunggu itu sia-sia. Dan tidak ada satu pun orang yang tahu.
"Non, sini non. Ada anak nakal yang mau mencuri ikan di kolam rumah kita"
Aku segera melihat ke arah luar. Aku melihat dia. Aku melihat seseorang yang memiliki pelangi terbalik indah itu. Dia sedang duduk di depan gerbang rumah ku, bermain dengan ikan di rumah ku. Aku tertawa kecil. Dia membuang lidi yang dia gunakan untuk bermain dengan ikan, lalu berdiri. Dia menghela nafas melihat ke arah jendela di atas, jendela itu adalah jendel kamar ku. Dia berangjak pergi dengan wajahnya yang ditekukkan.
Aku segera membuat pintu, lalu berlari keluar.
"Non, non Marwa!! Jangan keluar, bahaya non!!!", teriak bibi Noni.
Aku mengabaikan teriakan Bibi. Aku melihat punggunya yang berjalan begitu loyo. Bibir ku kelu sekali saat itu. Malu dan bingung untuk memanggilnya. Aku tidak tahu nama dia. Aku tidak ingin kehilangan dia untuk saat ini. Aku membuka pintu gerbang yang besar itu. Dan berdiri memperhatikannya dengan cemas. Aku masih bingun dan takut memanggilnya. Mulut ku begitu kelu untuk sekedar berteriak 'Hei!'. Aku pun geram dengan diri sendiri. Dengan spontan aku berteriak keras.
"Aaaaaaaaa!!!!!!!!!"
Dia berhenti seketika. Perlahan dia membalikka badannya. Terlihat pelangi terbalik yang indah itu. Aku melihatnya lagi. Dia melambaikan tangannya. Sungguh mempesona. Dia berlari ke arah ku. Tiba-tiba saja jantung ku berdegup kencang, rasanya sesak. Rasanya ada yang memukulnya. Aku memegang dada ku. Tidak ada yang terluka. Dia semakin mendekat. Jantung ku semakin berdegup kencang. Aku tidak kuat. Seketika aku terjatuh di tempat.
"Marwa!", teriaknya, berlari lalu menolong ku.
Aku mendengar teriakannya tadi. Dia mencoba memopang ku ke dalam rumah. Dada ku seketika terasa hangat. Terasa ada yang membalutnya seperti selimbut yang hangat. Aku tidak mengerti apa yang aku rasakan. Pada saat itu aku masih duduk di bangku SD. Tidak mengerti soal perasaan yang aku rasakan. Lemah saat hal itu terjadi. Takut bila itu adalah suatu penyakit dalam. Benar-benar tidak mengerti. Namun berjalannya waktu aku tahu apa yang aku rasakan. Aku jatuh cinta untuk pertama kalinya
°°°°°°°°°°

Sabtu, 05 November 2016

Understanding


"Kau tau apa yang paling menyakitkan di dunia ini ?", tanya ku.
"Apa itu ?"
"Sesuatu yang sudah kau perjuangkan, namun perjuangan itu tidak ada harganya sama sekali"
"Oh, ya ?"
"Ya"
"Apa kamu merasa seperti itu ?"
"Sedikit"
"Kau yakin ?"
Aku hanya terdiam, menundukkan kepala sembari menahan air mata yang siap akan jatuh.
"Hei", membalikkan tubuh ku lalu mengangkat kepala ku sambil berkata, "kenapa kau menangis ?"
Aku tidak menjawab. Yang aku rasakan hanya perih di dada ini. Ia memeluk seketika dan mengelus rambut ku yang terurai rapih.
"Sudahlah. Apapun yang menyakiti, akan kita tutupi dengan hal-hal terindah yang akan kita lakukan"
Aku melepaskan pelukannya, lalu menatapnya. "Janji ?", tanya ku. Ia hanya mengangguk dengan senyumannya.
°°°°°°°°
Aku sibuk dengan tulisan dan tugas hari ini. Aku benar-benar tidak bisa diganggu. Orang yang bertanya pada ku pada saat itu juga aku abaikan. Teman kelompok ku memang menyebalkan, seluruh tugas kelompok ku selesaikan oleh ku seorang diri.
"Marwa! Marwa! Marwa!"
Aku mengabaikan seseorang yang memanggil nama ku dari kejauhan di luar kelas sana.
"Marwa!"
Tetap saja, aku masih terpaku pada tugas ku yang harus ku selesaikan sekarang juga. Difikiran ku saat ini hanya untuk menyelesaikan tugas, sebelum guru mata pelajaran Bahasa Indonesia datang.
"Marwa! Marwa!"
Kini suara itu seolah semakin mendekat. Aku mendengar langkah kaki menghampiri kelas ku. Beberapa teman ku menatap ku dengan tatapan heran.
Brakkkkkk!!
Aku sontak kaget mendengar sesuatu terhantam begitu saja ke tembok. Aku melihat ke arah sumber bunyi itu. Aku melihat sosok orang yang paling ku cintai sekaligus paling ku benci di dunia ini. Nurfan. Ia menghampiri ku dengan tatapan tajam ke arah ku. Aku menatapnya balik. Aku tau niat dia saat ini terhadap ku. Sebelum dia melakukannya, aku akan melakukannya terlebih dahulu. Aku berdiri dan berteriak padanya.
"Kaluar kamu!!", teriak ku sambil menunjuk ke arah pintu kelas.
Dia sempat terhenyak mendengar suara lantang ku memakinya. Namun dia tidak pantang menyerah. Dia menarik lengan ku dan menyeret ku keluar kelas.
Aku ditarik olehnya. Sungguh menjengkelkan. Aku mencoba menepiskan cengkramannya, namun tidak bisa. Aku terpogoh-pogoh mengikuti langkah kakinya yang lebar.
"Nurfan! Ada apa sih ?", tanya ku. Dia terdiam, sibuk membawa ku entah kemana. Sampai akhirnya kami berhenti di belakang kantin sekolah. Nafas ku terengah-engah. Dia menatap ku yang kelelahan. Aku mengatur nafas ku dan mulai bicara.
"Ada sih ? Ko tiba-tiba narik aku gitu aja", tanya ku.
Dia masih menatap ku yang kelelahan. Nafas ku sudah teratur, namun raga ini masih belum pulih. Aku memalingkan pandangan ku ke arah kantin. Aku sungguh kehausan. Rasanya tenggorokan ini akan terasa lega apabila ada sesuatu yang mengalir di dalamnya. Aku melihat bibi kantin menuangkan jus jambu ke dalam kemasan minuman.
"Jangan kemana-kemana", ucapnya.
Aku melirik ke arahnya. Lalu pergi menghiraukan ucapannya. Tangan ku di tarik olehnya. Aku mulai geram terhadapnya. Aku menepiskan tangannya dan mulai pergi kembali. Dia menarik tangan ku lagi. Kali ini aku berteriak.
"Ada apa sih ?!", tanya ku kepadanya.
Aku benar-benar ke hausan, tidak sempat melihat raut wajahnya yang begitu sedih. Aku meleos begitu saja. Kini dia mengejar ku dan menarik tangan ku lagi. Dia menarik tubuh ku, dan cupppp. Kami berciuman.
Sungguh perasaan ini tidak karuan. Bahagia, kaget, kesal, haus, lelah, sedih, semua bersatu. Aku merasakan air hangat mengalir di pipi ku dan pipi Nurfan. Ku buka mata ku. Aku melihat ia menangis. Aku melepaskan ciuman kami dengan perlahan. Aku menatap matanya. Penuh dengan seribu pertanyaan di dalamnya. Aku mencoba menghapus air matanya. Dia menahan tangan ku.
"Kenapa kau tidak jujur pada ku ?", tanya Nurfan.
Aku mengerutkan dahi. Tidak mengerti maksud dari pertanyaannya.
"Kenapa kau tidak jujur pada ku ?!", tanya Nurfan sedikit menaik intonasinya.
"Jujur soal apa ?", tanya ku.
"Jujur soal apa. Kamu masih bertanya jujur soal apa ?!", Nurfan mulai mencengkram pundak ku.
Aku memekik kesakitan. "Sekarang katakan apa yang kamu sembunyikan", ujarnya. Aku masih tidak mengerti. Aku mengerutkan dahi dan menggeleng tidak mengerti.
"'Aku akan pindah ke Amerika, fan. Aku akan tinggal di sana'. Coba katakan itu pada ku", jelasnya sambil mengguncangkan tubuh ku.
Aku seketika terdiam. Tidak mengatakan apapun. Nurfan tau rencana keluarga ku. Nurfan tau aku akan pindah. Nurfan tau aku akan tinggal di Amerika. Nurfan tau aku akan meninggalkannya. Dia tahu. Dia tahu.
"Ayo. Coba kamu katakan itu pada ku. Ayo", ucapnya memaksa.
"Marwa. Aku bicara baik-baik. Coba kamu katakan hal itu pada ku", ucapnya dengan intonasi menurun.
Aku menunduk. Tidak kuasa menatap matanya.
"Mar, aku cuma pengen denger kamu ngomong kaya gitu ke aku", ucapnya lagi memohon sambil menahan ke sedihan di dalam hatinya.
Mata ku mulai menitikan air mata. Rasanya sakit menerima kenyataan ini. Ini semua salah ku. Aku belum siap menghadapi ini semua. Namun takdir berkata lain. Aku harus menghadapi masalah ini.
"Maaf", ucap ku lirih.
Nurfan menatap ku dengan lekat. "Huh. Bukan itu yang ingin aku dengar. Aku pengen kamu bilang--"
"Cukup, fan. Kamu enggak ngerti. Maaf selama ini aku udah berbohong sama kamu"
Nurfan melepas cengkramannya. Dia melangkah mundur. Menyenderkan tubuhnya di tembok. Dia menatap kosong ke arah langit. Aku mencoba mendekatinya. Ku sandarkan juga tubuh ku di tembok. Aku mengehala nafas dalam-dalam.
Kriiiinnnngg! Kriiiiinngg!
Bel masuk berbunyi. Kami seharusnya masuk ke dalam kelas masing-masing. Namun kaki enggan meninggalkan tempat ini. Perasaan ini masih tidak karuan. Sesaat aku dibawa terbang ke langit, namun tiba-tiba dihempaskan bersamanya ke bumi. Kami berdua saling menyakiti. Kami terdiam. Tidak saling membuka pembicaraan. Kami hanya butuh menenangkan diri. Mengerti satu sama lain.
"Baiklah. Setidaknya masih ada waktu", dia beranjak dan tersenyum ke arah ku.
Aku menatapnya sedikit heran. "Hei. Bukannya kamu lagi ngerjain tugas Bahasa Indonesia ? Mata pelajaran pertama Bahada Indonesia kan ?"
Aku melipat tangan ku di bawah dada. "Kamu baru sadar apa yang kamu lakuin itu udah bikin kita bolos 1 jam pelajaran", ujar ku
Dia tertawa renyah. "Bolos sekali-kali enggak apa-apap, kan ?"
Aku mendelekkan mata. "Eh, bukannya kamu haus. Ayo aku tlaktir minum di kantin bibi"
"Wah, serius ?", tanya ku seketika sumringah mendengar kata tlaktir.
Dia mengangguk dan mengusap rambut ku. "Dengar kata tlaktir aja, mata hijau langsung"
Aku tersenyum jahil kepadanya. Aku dengan Nurfan bolos 1 jam pelajaran. Kami menikmati minuman dengan ditemani perbincangan hangat. Seolah pertengkaran kami pada saat itu terlupakan seketika. Semua hanya butuh waktu, butuh berfikir, dan menata hati yang kecewa.
°°°°°°°°°

Kamis, 10 September 2015

Cerita Pendek Remaja Bernuansa Kemerdekaan

SEMANGAT GENERASI INDONESIA

Sorot matahari masih malu-malu untuk menampakan keindahannya.  Raiqa membuka jendela kamarnya dan melihat ke arah langit.  “indah sekali”, ujarnya dalam hati terpana akan keindahan Sun Rice yang ia lihat.  Raiqa menggeleng tersadar akan lamunannya yang terpesona dengan keindahan langit.
“di Jawa juga pasti ada keindahan seperti ini…”, Raiqa termenung dan menghela nafas dalam-dalam.  “…namun di tempat tertentu saja bisa terlihat”.
            Raiqa mengambil handuk yang tergantung di atas tali jemuran, lalu bergegas pergi ke kamar mandi.  Hari ini adalah hari pertama Raiqa masuk sekolah barunya. 
            Sejujurnya Raiqa enggan menuruti tawaran orang tuanya untuk pindah dari kampung halamannya.  Namun Raiqa lelah hidup berjauhan dengan orang tua.  Ia memutuskan ikut tinggal di pulau terbesar ke-4 di dunia.  Pulau “Borneo”.  Dan yang hanya di fikiran Raiqa adalah  pulau ini hanya ada hutan belantara yang akan menyiksakan hidupnya.  Tidak akan ada tempat yang mengasikan.  Tidak akan menikmati suasana ramai seperti di Jawa.  Akan sangat membosankan.  Dan yang paling Raiqa takutkan.  Ketika dia kembali lagi ke tempat asalnya “jawa” dia takut akan diolok-olokkan oleh teman-temannya bahwa dia berasal dari hutan berlantara.  Itu sangat mengerikan baginya.
            Hari pertama masuk sekolah.  Raiqa sudah kebingungan akan komunikasi dengan teman-teman barunya.  Walau bahasanya campur antara bahasa daerah Kalimantan dengan bahasa Indonesia baku, tapi terkesan aneh untuk Raiqa.  Raiqa yang terbiasa menggunakan logat sunda namun campuran betawi itu, tidak bisa sembarangan menggunakan bahasa itu.  Ada beberapa kata yang arti dalam bahasa daerah Kalimantan itu A (positif) namun bila di artikan ke dalam bahasa sunda itu B (negarif).  Ada pun sebaliknya begitu.  Itu membuat Raiqa lebih berhati-hati.
            Aura atmosfer di tempat barunya sangat berbeda.  Mulai dari bahasa, logat, perilaku, pergaulan, selera humoris, budaya, adat, kesenian, sampai tren&trendy di tempatnya sangat berbeda.
            Raiqa sangat mencintai seni.  Semua seni sangat dia gemari, namun hanya seni rupa yang tidak bisa dia kuasai.  Di sekolah lamanya adalah salah satu tempat perjodohan anatara dia dan seni.  Di sana dia bisa menikmati semua sarana seni yang ada.  Seni sudah sangat melekat dalam jiwanya.  Tapi ketika dia pindah, semangatnya berkurang.
            “ikam1 mau ikut ekskul apa ?”, tanya salah seorang teman baru Raiqa yang bernama Lumita.
            “di sini ada ekstra teater?”, tanya Raiqa.
            “ada”, jawab Lumita.
            “iya, aku mau ikut ekstra teater”, jawab Raiqa memberikan senyuman ramahnya.  Teman-teman Raiqa memangut-mangut.
            Singkat cerita, 2 bulan sudah terlewati oleh Raiqa.  Dia mulai dapat berbaur dengan teman-teman barunya, walau tidak sebebas di sekolah lamanya.  Raiqa selalu memperhatikan tingkah laku, perilaku, dan karakter teman-temannya. 
            “mereka itu sama sepertiku.  Mereka anak Indonesia.  Mereka generasi Indonesia yang kelak akan memegang Negara ini.  Kami, dengan segala perbedaan suku, agama, ras, dan antar golongan akan mewujudkan dan mempertahankan semboyan kami ‘Bhineka Tunggal Ika’” –Raiqa M Rayya.
P P P P P
            Padamu Negeri Kami Berjanji
            Padamu Negeri Kami Berbakti
            Padamu Negeri Kami Mengabdi
            Bagimu Negeri Jiwa Raga Kami
            Lantunan lagu kebangsaan Indonesia yang sering dinyanyikan sepulang sekolah oleh siswa & siswi sekolah Raiqa. 
            Murid-murid berlalu lalang.  Raiqa terdiam sendiri, menunggu adiknya keluar dari kelas.  Saat menunggu, terdengar alulan musik daerah, membuat Raiqa berdiri dan mengikuti arah musik daerah itu.  Raiqa menyusuri suara indah itu.  Dia menaiki anak tangga satu persatu, hingga dia sampai di depan aula.  Raiqa mengintip ke dalam aula tesebut.  Terlihat penari-penari yang sedang melenggang di dalam aula.  Tiba-tiba terlukis pelangi terbalik di wajahnya. 
            “mereka pasti sangat bangga dengan identitas daerah mereka.  Terlihat dari sorot wajah mereka.  Mereka dengan semangat, tekun, dan berusaha agar gerakannya bisa menyerupai pelatih yang sudah mahir dengan gerakannya.  Akan sangat bangga sekali membawa atau memperkenalkan identitas daerah sendiri”, batin Raiqa.
            1 Oktober.  Terlihat beberapa warga yang sedang mempersiapkan acara yang sering di rayakan setiap 1 tahun sekali.  “Pawai Nasi Kuning”.  Acara tersebut di rayakan pada setiap tanggal 3 Oktober.  Raiqa pun tidak luput untuk mempersiapkan acara tersebut di sekolahnya.
            “Eh mau bikin hiasan apa bah2 buat pawai nanti?”, tanya salah seorang teman Raiqa dengan logat kental bahasa daerahnya, Agung
            “Gak tau.  Aku malas ikut-ikutan”, celetuk teman Raiqa, Shafira.
            “Niko, bagaimana ni kelas kita? Ikam1 tuh ketua kelas mah2
            “Apa nah2? Coba ikam tanya sidakam4,2 tuh. Absen sekalian am2 gung” jawab Niko acuh tak acuh.
            “bagaimana ini? Kada5 yang mau berpartisipasi dalam acara pawai”
            “ya sudaham.  Kalo kada5 yang mau ikut acara pawai, gak perlu ikam1 pikirkan.  Pusing-pusing sendiri lok2”, ucap Daniel dengan santainya.
            Raiqa yang melihat percakapan mereka termenung.  “kenapa disaat orang-orang bersemangat mempersiapkan acara adat daerah mereka, ada saja orang yang sama sekali tidak peduli dengan budaya mereka “, batin Raiqa. 
            2 Oktober.  Sekolah Raiqa mengadakan gladi bersih untuk acara Pawai Nasi Kuning.  Selagi sekolah mempersiapkan dengan matang pemeriah, setiap kelas di sekolah Raiqa, harus mengirim 1 pemeriah acara pawai tersebut.  Bila tidak, akan dikenakan denda bagi kelas tersebut.
            Teman Raiqa yang mengabaikan acara pawai ini, hanya menganggap enteng denda tersebut.  Bukan soal denda itu, tapi kepedulian terhadap budaya yang sangat disayangkan.  Itu sama saja menjual kebudayaan sendri walau kecil dampaknya.  Namun bila itu terus dibiasakan, akan berdampak buruk bagi masa depan Negara ini.
             Raiqa tidak bisa berdiam membayangkan itu semua akan terjadi.  Harus ada yang menyadarkan mereka.  Raiqa mengajak teman kelasnya yang ikut dalam pemeriah, untuk berkumpul membicarakan acara pawai ini.  Untung saja ada temannya yang peduli dengan acara ini.  Namun mereka kewalahan dalam mempersiapkan pemeriah tanpa anak laki-laki.  Hanya 2 orang anak laki-laki yang membantu mereka.
            “Faisal, lakas6 bah2.  Ikam1 tuh masang tiang macam tuh susahnya minta ampun”, omel Erika.
            “Sabar mah2.  Aku ini juga lagi hati-hati”, ucap Faisal.
            “ngeles aja”, omel Erika lagi.
            “laki-laki yang lainnya tuh bah2.  Bantu kami”, ucap Algi.
            “mana ada yang mau?  Sidanya4 tuh susah disuruh.  Malas-malasan buat ikutan acara macam ni”, ucap Erika.
            “Gak adil baaah2.  Sidanya tuh nanti cuma ikut ucapara saja, terus pulang.  Enaknyaa”, keluh Algi.
            “bujur3 gi”, ucap Faisal menyetujui.
            “sidakam4,2 tuh.  Kita buat pemeriah untuk kelas kita juga bah2.  Gak usah iri-irian sama orang yang gak berguna tuh.  Sudaham, lakas6 benarkan tiang itu, sal”
            Raiqa terdiam.  Raiqa tampak geram.  Raiqa sudah tidak tahan dengan orang-orang yang harus diperbaiki kesadarannya.  Raiqa berdiri dan menginggalkan kelasnya.
            “Raiqa! Ikam1 mau kemana?”, teriak Erika.  Raiqa tidak menyahut pertanyaan Erika.
            Dengan nafas yang berhembus kencang, mata Raiqa mejelajah kesetiap sudut-sudut sekolah mencari segerombolang itu.  “dimana mereka?”, dengus Raiqa.  Raiqa melihat kumpulan laki-laki itu yang sedang asik berbincang.  Raiqa menghampiri mereka.  “hidup lo semua kebanyakan makan manisnya doang yah”, celetuk Raiqa.  Sekumpulan laki-laki itu terdiam menatap Raiqa dengan tatapan bertanya. 
            “kalian orang yang bisa diandelin enggak?  yang berguna sedikit gituh?”, tanya Raiqa dengan nada yang sedikit sinis.  Teman-teman Raiqa masih tetap memperhatikan Raiqa dengan tatapan yang sama.
             “kalian cuma sampah!”, bentak Raiqa dan pergi meninggalkan mereka.  Namun salah seorang teman Raiqa menahan tangannya dan membuat Raiqa menoleh.  “apa?!”, tanya Raiqa kasar, lalu menepis tangan laki-laki itu.
            “ikam1 tuh kenapa mah2? Baru datang sudah marah-marah”, tanya teman Raiqa, Nandi. Raiqa menatap tajam Nandi dan segerombolannya lalu meleos kembali.  Namun lagi-lagi tangannya di tahan oleh Nandi.  “apaan sih?!”, Raiqa menepis tangan Nandi lebih kasar.
            “ikam1 lagi PMS? Coba ikam1 jelaskan ada apa.  Jangan tiba-tiba marah begitu”, tanya Nandi.
            Raiqa menghela nafas dalam-dalam, lalu mengontrol emosinya.  “kalian bisa bantu kita?”, tanya Raiqa.
            “bantu apa bah2? Tapi jangan ikam1 bilang, kalo kami harus bantu sida4 untuk persiapan pemeriah acara pawai? Kami malas mah”
            Emosi Raiqa kembali menaik.  Tatapan Raiqa menajam kearah Nandi dan segerombolannya.
            “manusia enggak berguna! Cuma meramaikan acara pawai aja kenapa harus males-malesan.  Hidup lo semua cuma pengen praktisnya doang”, bentak Raiqa.
            “peduli apa ikam1 sama acara itu? Ikam1 tuh bukan asli orang sini, kami yang orang asli sini.  Jadi ini acara daerah kami.  Terserah kami mah ingin meramaikannya atau tidak”, tanya Yosef sambil berdiri.
            “enteng banget lo ngomong kaya gituh.  Gue, bukan orang asli disini, tapi lebih peduli sama acara adat daerah sini.  Kenapa gue harus peduli? Karna ini salah satu budaya Negara kita.  Gue, sama kaya lo semua.  Anak bangasa Indonesia”
            “ngomongnya ketinggian ikam1 tuh—“
            “ketinggian? Sadar dikit dong! Lo semua bisa dicap sampah masyarakat kalo kaya gini terus”
            “ikam1 tuh, yang sampah masyarakat.  Ngomong aja sok-sokan ‘elu gua’.  Kalo marah-marah, ngomongnya kasar”, ujar Nandi
            “jangan liat dari kulitnya, jangan liat dari hal negatifnya.  Lihat semangat kepedulian anak-anak bangsa di luar sana.  Masa kalian semua dengan enaknya, santai-santai, sedangkan di luar sana ada banyak orang yang mempertahankan kebudayaan kita yang sudah diakui oleh Negara lain?”
            “lok, masih banyak orangkan? Yasudaham, biarkan saja sidanya4 tuh”, ucap Sandi enteng.
            Raiqa mendengus dan menatap sinis Sandi.  “pantes saja.  Negara Malaysia dengan mudahnya mengklaim kebudayaan milik kita, karena penerus bangsa Indonesia sendiri tidak peduli dengan kebudayaan Negaranya.  Sadar dong kalian.  Pulau Kalimantan ini menyatu dengan Negara Malaysia.  Kalo kita lengah sedikit aja, bukan hanya Malaysia yang mencuri kebudayaan kita, tapi Negara lain juga”
            Teman-teman Raiqa berdiam.  Mereka seperti memikirkan sesuatu dari setiap kalimat yang diucapkan Raiqa.  Raiqa tampaknya senang telah mempengaruhi kesadaran mereka.
            “sudah selesai kah2? Sudah selesai merajuknya7 ? Sudah tenang kah ? Nah, sudaham.  Balik saja ke kelas, kami malas debat dengan ikam1
            Raiqa tidak menyangkan apa yang sudah Nandi katakan.  Ternyata percuma saja Raiqa mengeluarkan emosinya hanya untuk menyadarkan mereka, namun tidak ada satupun ucapan Raiqa yang mereka dengar.  Raiqa kembali ke kelasnya dengan perasaan geram.
P P P P
            3 Oktober.  Pagi sekali orang-orang sudah mempersiapkan pernak-pernik dan hiasan untuk berkeliling kota. Dari berbagai desa, kecamatan, rt, perumahan, dan gang di setiap perumahan, mereka dengan semangat bersiap-siap untuk memeriahkan ulang tahun kota mereka.  Raiqa berpartisipasi dengan acara ini di sekolahnya.  Sekolah Raiqa sudah mempersiapkan acara dengan sangat matang.  Setiap kelas harus memengirim 1 pemeriah.  Suasana di depan sekolah Raiqa sangat ramai dengan siswa/siswi yang menggunakan baju adat mereka.  Raiqa dengan bangga dan senang mengenakan baju adat khas dari Kalimantan tersebut.  Raiqa dan teman-temannya yang berpartisipasi tidak lupa untuk mengabadikan momentum yang hanya berlangsung 1 tahun sekali ini.
            “eh sidanya4 Nandi kemana ? Belum datang kah2 ? Mereka walaupun kada5 ikut pawai, tapi harus ikut upacara”, ucap Erika.
            “eh iya lok2.  Sida4 Nandi mana?  Cari bah2, nanti dihukum bu kepsek kalo kada5 ikut upacara.  Kasihan mereka”, lanjut Indah, salah satu teman kelas Raiqa.
            “biarin aja mereka dihukum.  Kan itu emang salah mereka sendiri.  Udah enggak mau ikut pawai, bantu mempersiapkan pemeriah kelas aja enggak mau, nah sekarang, mereka juga enggak mau ikut upacara.  Hidup mereka emang enggak ada gunanya”, ucap Raiqa dengan sinis.
            “Ujar siapa kami orang kada5 gunanya ? Tarik lagi ucapan ikam1 tuh Raiqa”, suara laki-laki tadi membuat Raiqa terkejut akan ucapannya.  Suara laki-laki terdengar di belakang Raiqa.  Raiqa kenal sekali dengan suara itu.  Dengan menghela nafas dalam-dalam dan mengatur emosinya, Raiqa beralik badan.  Raiqa terhenyak melihat apa yang ada di hadapannya.  Segerombolan pengacau datang dengan penampilan yang kumuh dan aneh.  Emosi Raiqa mulai naik.
            “apa yang mau kalian lakukan ? Mau jadi pengacau ?!”, tanya Raiqa sedikit berteriak.
            “keramput8! Ikam1 tuh selalu berfikiran negative terhadap kami.  Kami itu mau ikut pawai lah”
            “dengan berpenampilan seperti itu ? Dimana seragam kalian ?!”
            “hahahah”, tawa segerombolan pengacau teman Raiqa.  Raiqa meresa ini benar-benar sudah keterlaluan.
            “kada5 usah marah begitu qa.  Kami ini mau ikut pawai, mau memeriahkan ulang tahun kota kita.  Apa salah kami ikut pawai ?”
            “tapi dimana—“
            Segerombolan pengacau teman Raiqa mengeluarkan seragam dari tas mereka.  “kami enggak lupa buat bawa ini.  Ohiya, kelas kita nih belum ada maskotnya kah2 ? Ya sudaham, biar kami saja yang jadi maskot”, ucap Nandi sambil memberikan senyuman kepada Raiqa.
            Emosi Raiqa meredam.  Kini yang Raiqa rasakan adalah rasa bangga dan senang, karena telah mampu menyadarkan mereka akan kepedulian terhadap budaya daerah mereka.  Senyum Raiqa kini terlihat.  Raiqa memukul pundak Nandi dengan senyuman ‘selamat’.  Nandi pun membalasnya dengan senyuman juga.
            Pawai pun dimulai.  Acara dimulai dengan mengelilingi kota.  Sekolah Raiqa berjalan mengikuti rute yang sudah di tentukan oleh panitia acara tersebut.  Raiqa dengan teman-temannya berjalan dan sesekali mereka mengabadikan momentum dengan maskot-maskot kelas lain.
            Setelah selesai berkeliling kota.  Upacara di sekolah pun di mulai.  Ada pun perwakilan dari sekolah untuk ikut upacara di kantor wali kota.  Setelah upacara.  Raiqa dan teman-temannya pergi ke tempat dimana salah satu teman Raiqa ikut pemilihan sebagai “Putra-Putri Pariwisata”.  Banyak sekali yang mengkuti ajang pemilihan”Putra-Putri Pariwisata”.  Syarat yang harus di laksanakan untuk mengikuti ajang ini, mereka harus memiliki bakat apa saja dan tentunya bisa menarik hati para juri, mereka juga harus memiliki jiwa kecerdasan yang tinggi, dan tentunya mahir dalam berbahasa Inggris.
            Raiqa kini sadar, banyak hal yang ia ambil dalam kehidupan ini.  Raiqa sangat bersyukur karena ditakdirkan untuk merasakan indahnya dunia dan kebudyaan Negara Indonesia.  Teman-temannya yang berada di Jawa, belum tentu bisa melihat, mengenal, merasakan, ikut berpartisipasi, bahkan ikut melestarikan kebudayaan di Kalimantan.  Raiqa bertekad, sepulangnya ia ke Jawa, ia akan mulai melestarikan kebudayaan di sana.  Raiqa juga bertekad untuk mengelilingi Indonesia, dan mengenal lebih dalam kebudayaan Indonesia
            “berbanggalah dengan kebudayaan Negera kita, Negara Indonesia.  Selalu lestarikan kebudayaan yang sudah menjadi tanda pengenal bagi Negara Indonesia.  Kobarkan semangat cinta akan kebudayaan milik kita.  Tunjukan pada dunia, betapa indahnya kebudayaan kita, Indonesia” –Raiqa M Rayya.

Catatan : 1Kamu
               2Kata berimbuhan
               3Benar
               4Kalian (sidakam) Mereka (sida) Mereka Si A (Sidanya)
               5Tidak ada
               6Cepat
               7Marah-marah
               8Intinya bahasa kasar

Jumat, 07 Agustus 2015

I'm Lintang

Pagi hari yang sangat gelap. Matahari pun belum memunculkan keindahannya saat itu. Hawa dingin menusuk kulit kuning langsatnya Ira. “kenapa harus mandi jam segini sih ?”
“supaya gak macet di jalan kali”
            “tapi gak usah jam 3 subuh juga kan”
            “sudahlah. Gak usah ngomel-ngomel mulu. Cepet pake baju, nanti dimarahin mamah loh” sambil memberikan baju kepada Ira
            Ira hanya menurut dan langsung mengenakan pakaiannya. Ira turun dari kamarnya yang ada di lantai atas ke ruang makan di lantai bawah. Terlihat Andra, kakaknya Ira, sudah menunggu yang lain dimeja makan sambil memainkan PSPnya. Dan Liana adiknya Ira, sedang asik dengan handpone barunya. Semuanya sibuk dengan kesibukannya masing-masing.
            “papah sama mamah mana ?”
            “masih di kamar mungkin” jawab Andra tanpa melihat kedatangan Ira
            Ira duduk dikursi makan dengan setengah hati. Menunggu dan menunggu. Jenuh dan membosankan yang Ira rasakan. Setengah jam berlalu. Papahnya Ira menghampiri ruang makan. Andra dan Liana segera mematikan PSP dan handponenya. Kini semuanya keluarga Ira telah kumplit.
            “lama banget sih pah”
            “iya maaf. Tadi kan papah ngangkat telepon wa Ibu dulu”
            Beberapa menit mamah keluar dari kamarnya. “emm udah pada kumpul yah. kita makan di jalan aja yah. Sama bubur looh” sambil mengacungkan jarinya. “yess. Sama bubur” gumam Andra
            “ah kalo gituh gak usah nunggu lama kaya tadi dah. Mending beli langsung aja sendiri” kesal Ira sambil melipat tangan di depan dadanya
            “kita beli bubur bukan di tempat langganan kita. Di depan jembatan layang”
            “wah bagus-bagus tuh” ucap Andra menyetujui
            “kalo gituh. ayok berangkat”
            Ira beserta keluarganya berangkat menuju rumah neneknya. Rencananya, keluarga besar Ira ingin mengadakan arisan keluarga di daerah villa milik kakak dari papahnya Ira. Daerah itu masih sangat asri. Asap polusi, masih belum tersentuh ke daerah itu. Hanya beberapa mobil truk dan satu atau dua bus sering melewati daerah itu. Tranportasi masih minim, namun Uwa (kakak dari papah/mamah) memiliki 2 mobil dan 1 motor yang sering di pakai para tamu yang sering berkunjung ke kebun teh milik uwanya.
            Saat di perjalanan yang belum begitu ramai namun terlihat aktivitas orang-orang mulai berjalan ramai. Dan hawa dingin yang menyelimuti tubuh orang-orang di daerah itu. Namun apa daya aktivitas mereka tidak bisa mereka tinggalkan begitu saja. Ira melihat aktivitas mereka yang sibuk sendiri, tanpa ada yang sahut menyahut, hanya sekedar butuhnya saja. Betapa egoisnya dunia ini. “gak ada interaksi sama sekali” lirih Ira sedikit mencibir.
            Beberapa jam kemudian. Akhirnya mereka sampai di desa yang mereka tuju. Ira sangat takjub dengan pemandangan yang ia lihat. Di kanan kiri mereka semua hijau, asri, indah, amazing. “wow ! indah sekali negri ini”. Dilihat jam tangan yang melekat di tangannya Ira “pukul 7 pagi. Pantas saja dingin sekali jam segini, orang masih pagi begini” gumamnya. Ira mengambil pakaian hangatnya dan langsung ia kenakan agar tubuh mungilnya tidak kedinginan. “waaaaw keren banget pemandangannya. Gak salah deh uwa milih beli villa di daerah yang begitu indah ini” kagum Liana.
            “hah! Paling orang-orang sini tidak bedanya dengan orang-orang yang di Jakarta” ucap Ira
            Tiba-tiba saja Liana dan Andra melirik Ira dengan tatapan tajam. “kenapa ?” tanya Ira. Liana dan Andra tidak merespon pertanyaan Ira, mereka kembali ke pemandangan yang indah di sana.
Setelah sampai di villa, mereka turun dari mobil. “tuh kan apa yang ku bilang. Tak ada sambutan sama sekali. Orang sini tidak sama bedanya dengan orang Jakarta” ucap Ira. Liana dan Andra tidak memperdulikan ucapan Ira tadi.
Saat keluarga dan Ira memasuki villa uwanya. Sapaan yang hangat menyambut keluarga Ira. Ira pun tak kalah hangat dari mereka. Mata Ira menyambut satu persatu yang menyapanya, tiba-tiba tatapan Ira terhenti pada salah satu laki-laki yang duduk sendiri disana. “siapa dia ? cuek sekali”. Laki-laki itu juga tak peduli dengan tatapan Ira. Terlihat cuek dan arogan. Ira pun berhenti menatapa laki-laki itu. Tiba-tiba saja ada yang menarik handponenya Ira. “eh !” sontak Ira. “liat hpnya yah” ternyata yang menarik handponenya Ira itu soadaranya sendiri, kak Yasmien “ya ampun ka Yasmien, gak usah main rebut juga kali minjemnya” canda Ira “sorry” jawab Yasmien sambil mengedipkan matanya.
            Beberapa saat kemudian. Acara arisan pun berlangsung dengan ramai. Semuanya tegang dengan hasil yang akan keluar dari gelas kocokan itu. Dan setelah yang keluar, satu gulungan kertas yang berisi nama “Nias”. Semua bersorak kegirangan. Ada juga yang bersorak menerima kekalahan. Semua ramai saat itu. Anak-anak lainnya semua merayu uwa Nias agar arisan bulan selanjutnya di tempat yang asyik dan ramai.
            “jadi dong waa, arisan selanjutnya di luar lagi. Tapi yang ramai”
            “iya waaa, jangan di rumah-rumah aja. Sekalian kita jalan-jalan” rayu beberapa anak
            “mau kalian tuh dimana ?” tanya uwa Nias
            Anak-anak serontak langsung menyarankan tempat yang ingin direncakanan. Di balik keramaian itu. Ira yang tidak memperdulikan acara itu hanya terdiam. Kadang dia ikut tertawa disaat yang lain tertawa, padahal tidak ada yang lucu sama sekali menurut dia saat itu. Tatapan ira tiba-tiba berhenti kembali pada salah satu laki-laki itu. Dia duduk sendiri di meja makan, dan sibuk dengan i-phonenya. “kenapa ra ?” tanya kak Yasmien. Sepontan Ira kaget dan langsung menghentikan tatapannya pada lelaki itu. “e, e..uum, enggak kak heheh” jawab Ira dengan salah tingakah.
            “aa ah apa yang enggak. Orang kamu dari tadi ngeliatin dia” sambil menunjuk ke arah laki-laki itu
            Laki-laki pun melihat apa yang terjadi diantara Ira dan kak Yasmien. Setelah itu dia langsung pergi ke belakang rumah. “kok pergi sih” lirik Ira sedikit kecewa.
            “tuh kaaan. Kamu dari tadi merhatiin dia yaah”
            “ih kak Yasmien apaan sih. A-aku merhatiin dia karna sepertinya aku pernah melihatnya disesuatu tempat. Itu saja kook”
            “ooh gituh” serpon kak Yasmien
            Setelah bercengkrama, bernyanyi-nyanyi mengisi acara. Tak terasa waktu tepat pada jam 12 siang. Uwa Dion mempersilahkan sodara-sodaranya untuk makan bersama. “ayo-ayo waktunya makan. Makan sendiri yaah yang udah gede, kecuali yang masih kecil” canda Uwa.
            Ira yang dari tadi dengan asyiknya menonton televisi, di kagetkan oleh suara tante Adel. “Ira makan dulu sana”
            “eh tante ngagetin aja. Iya tante nanti Ira nyusul”
            “nanti keburu laper looo”
            “emang udah laper hihihih” Ira sambil lari ke arah dapur untuk mengambil seporsi makanan
            Saat di dapur, laki-laki ini lagi membuat Ira begitu penasaran dengannya. Gayanya yang begitu arogan, sikapnya yang dingin, tataan rambutnya sidikit keatas. Siapakah dia ?, sepertinya Ira pernah melihatnya, tapi tidak seperti ini. Ira mulai tidak memperdulikannya. Ira langsung mengambil piring dan beberapan masakan. Saat dia ingin mengambil sendok, tiba-tiba tangan dia tersentuh dengan seseorang. Dilihatnya oleh Ira, ternyata laki-laki itu. “what problem ?” batin Ira. Sepontan laki-laki itu langsung melepaskan genggamannya. Ira memperhatikan laki-laki itu cukup lama, laki-laki itu salang tingkah lalu pergi begitu saja. “dasar manusia aneh” lirihnya
            Semakin malam semakin meriah acara itu. Keluarga Ira hampir semua menyukai seni musik. Satu persatu semuanya menyumbangkan lagu untuk malam itu. “Ira sama Liana niih yang belum nyanyiii” sorak uwa Andri.
            “aduuuh Ira mah lagi batuk waa. Jadi suaranya jelek. Liana aja ya wa”
            “ya sudah. Liana nyanyi yaah” ajak Uwa Andri
            Ira diam-diam pergi ke belakang rumah. Ira tidak lupa dengan baju hangatnya, diluar sana sangat dingin untuk tubuh mungilnya. Ada taman kecil di belakang rumah uwa Dion. Ira berjalan perlahan sambil melihat ke indahan yang ada di sana. Taburan bintang yang menghiasi malam, bulan purnama yang menyinari pedesaan itu, terlihat sekali kebun teh yang menjajar rapih disana.
            “rasanya ingin sekali berlari-lari kecil di sana” gumam Ira
            “kau takkan bisa”. Serontak Ira kaget dan mencari siapa yang seenaknya berbicara seperti itu. Tatapan Ira menyipit tajam pada salah seorang laki-laki itu. Laki-laki itu menoleh ke arahnya dan memberikan senyuman. Ira mentapnya heran. “kemarilah” ajak laki-laki itu. Ira menghampiri laki-laki itu dan duduk di sebelahnya. Cukup lama mereka berdiam tanpa saling bertanya. Memang hidup itu egois.
            “kenapa kamu bisa berkata seperti itu ?” Ira mulai memudarkan keheningan
            “berkata apa ?”
            “ituu, tentang kalo aku tidak akan bisa bermain di sana”      
            Laki-laki itu tersenyum kecil. Lalu ia menunjuk ke arah kebun teh itu. “coba lihat disana” Ira menengok ke arah kebun teh. “di belakang kebun teh itu. Ada jurang yang begitu dalam di sana”
            “lalu ?”
            “kau tak akan bisa bebas berlari kecil di daerah itu”
            “kata siapa. Aku bisa berlari searah dengan jalanan”
            “searah dengan jalanan tidak akan membuat kita puas untuk berlari”
            Ira berdiri sambil melihat kebun teh itu. “lagi pula aku tidak akan terus berlari sampai ujung itu”
            “jadi kau akan berlari di daerah itu saja ?”
            Ira duduk kembali di samping laki-laki itu “yup”
            “kau mudah puas”
            “lalu ? apa masalahmu ?”
            Laki-laki itu menoleh ke arah Ira. Dan menatap tajam ke arahnya, mendekati wajahnya ke wajah Ira “rasa puas adalah musuh terbesarku”. Ira terbelalak melihat wajah laki-laki itu. Tatapan laki-laki itu kembali ke arah kebun teh. “oh begitu” respon Ira. Ira masih terheran dengan kebun teh di sana. Mengapa ada jurang di belakang kebun teh itu.
            “kau ingin bermain ?” tanya laki-laki itu
            Ira menatapnya sambil menganggukan kepalanya. “besok pagi akan ku ajak kau ke tempat yang indah. Tapi bukan di daerah ini dan di sana juga bebas dari jurang”
            “wah serius ?”
            “apa tatapanku ini tatapan candaan”
            “waaah asyiik” girang Ira
            Laki-laki itu melihat wajah girangnya Ira, lalu dia tersenyum. “hahah dasar setan kecil” lirih laki-laki itu. Mendengar perkataan itu, Ira menoleh ke arah laki-laki itu. Laki-laki itu buang muka, salah tingkah, dan mati gaya. Karna takut ketahuan, laki-laki itu pergi dari tempat itu meninggalkan Ira.
            “setan kecil. . . bukannya itu sebutan nakal waktu aku kecil” sambil menoleh ke arah perginya laki-laki itu
# # #
            Ke esokan harinya. Ira sudah menunggu di depan pintu motel laki-laki itu. Saat laki-laki itu keluar dari motelnya “hey !” sapa Ira. Laki-laki itu kaget akan kedatangannya. “sedang apa kau di sini ?”
            “aku menunggumu”
            “untuk apa ?”
            “kau lupa yah. Kau kan sudah berjanji padaku untuk mengajakku bermain ke tempat yang indah”
            “oh begitu. Kemarilah” laki-laki itu mengajak Ira menunggu di dalam motelnya “kau tunggu saja di sini. Aku ingin mandi dulu”
            “eh jangan lama-lama yah. Nanti udara pagi keburu abis”
            Laki-laki itu mengangguk dan berlalu meninggalkan Ira di ruang tamu. Beberapa menit kemudian. Laki-laki itu keluar dari kamarnya. “rapi sekali. Kaya yang ingin pergi kencan saja” heran Ira
            Laki-laki itu salah tingkah “ah ! memangnya salah kalau aku memakai pakaian ini ? tidak kan” sambil pergi keluar tanpa menghiraukan Ira.
            “hey tunggu aku dong”
            Saat mereka di halaman motel “karena di sini kendaraan sangat minim. Jadi kita pakai sepeda saja “
            Ira yang dari tadi hanya menengak nengok ke daerah itu sambil mencari sesuatu membuat laki-laki itu terheran “ada apa ?”
            “sepedanya cuma satu ?”
            “memangnya kenapa ?”
            “nanti aku ke sana pakai apa ?”
            “ya ampun. Kau akan ku bonceng Iraaa” dengan gemasnya laki-laki itu mengepal tanganya ke arah wajah Ira
            Akhirnya mereka berangkat ke tempat yang mereka tuju. Saat di perjalanan, Ira hanya memandang pemandangan yang ada di sana. Terkadang ia menjulurkan kedua  tangannya ke samping seraya menghirupkan udara pagi yang segar. Laki-laki itu yang dari tadi merasakan kegirangannya Ira, tersenyum kecil. “eh, aku belum tau loh nama kamu siapa” tanya Ira. Laki-laki itu terbangun dari lamunannya. Kebetulan laki-laki itu sedang memakai earphone jadi dia berpura-pura sedang mendengarkan lagu, padahal earphone itu tidak tersambung dengan handponennya. Ira yang hanya tau laki-laki itu sedang asyik mendengarkan lagu, hanya terdiam dan memaklumkannya.
            Setelah beberapa menit di perjalanan. Akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. “waaaahh. Keren banget” kagum Ira.
            “apa ku bilang. Di sini itu tempat indah sekali, kalau kata orang. Surganya dunia” spontan sambil merangkul pundak Ira. Saat Ira tahu dirinya dirangkul oleh laki-laki itu, laki-laki itu langsung melepaskan rangkulannya. “ehm, eeeuuh, kita jalan kesana yuk” tanpa memerdulikan Ira begitu saja
            Ira mengikutinnya dari belakang. “kita mau kemana ?” tanya Ira.
            “ikuti saja aku”. Setelah sampai di tempat yang tepat. “gak seru kan kalo cuma liat-liat aja di sini. Gimana kalo balap lari dari sini sampai ujung sana ?” sambil menunjukan ujung kebun teh itu.
            “gila ! jauh amat !”
            “ah katanya mau berlari di kebun teh sepuas mungkin”
            “aku bilangkan berlari kecil. Bukan lari maraton”
            “tenaaaang jogging kok larinya”
            Ira berfikir sejenak sambil memerhatikan sekitar. Sambil menjentikan jari “okeh”
            “startnya dari sini”
            Ira mengangguk. “sudah siap ?” Ira mengangguk dengan siap “mulai!” Ira berlari secepatnya. Sedangkan laki-laki itu diam dan tersenyum sambil memperhatikan Ira yang terbirit-birit berlari. “katanya bakal berlari-lari kecil. Taunya bakal sprin juga” sambil kembali ke tempat diparkirnya sepeda, laki-laki itu menyusul Ira dengan sepedanya.
            Ira istirahat sejenak sambil mengambil nafas dalam-dalam “hahah ternyata laki-laki itu seperti kura-kura. Laki-laki tapi fisik nol”. Saat istirahat beberapa menit. Ira melihat dari kejauhan orang yang sedikit ia kenal membawa sepeda menghampiri Ira. Ternyata laki-laki itu. “payah” lirih Ira
            “keren. Bisa sampai sini juga kamu”
            “hey ! kok kamu pakai sepeda sih balapnya ?!”
            “memangnya kenapa ?”
            “payah kamu ! laki-laki tapi nyali, fisik, nol !”
            “hey ! kalo aku lari dari sana sampai ujung kebun teh sana. Bagiku itu kecil !”
            “lalu kenapa kau pakai sepeda ?” sambil mendorong sepeda itu
            “memangnya balapan ini untuk siapa ? untuk kamu kan”
            “kok gitu ? perasaan instruksinya tidak seperti itu”
            “aku bicara tidak ada kata ‘kita’ kan ?”
            Ira berfikir sejenak. Merasa sudah dikerjai, Ira duduk di belakang jok sepeda itu. Tau apa keinginan wanita itu. Laki-laki itu segera mengantarkan Ira ke tempat yang sedikit tinggi. “tunggu di sini” kata laki-laki itu. Beberapa menit menunggu, laki-laki itu kembali lagi dengan membawa dua ice cream. “nih” sambil memberikan 1 buah ice cream untuk Ira
            “ice cream ? aku butuhnya air minum, bukan ice cream”
            “kagak ada Ira. Udah deh ambil aja. Itung-itung, itu ice cream tanda maaf aku udah ngerjain kamu”
            “ternyata kamu… eeerrrgghh” sambil mencubit bahu laki-laki itu
            “aw ! sakit dong ra”
            “biarin. Biar kamu tau gimana capeknya aku lari dari sana sampe ujung kebun sana”
            “hahah”
            “ketawa lagi”
            Laki-laki itu terus memerhatikan Ira yang sedang lahapnya memakan ice cream yang baru saja dia beli. Terlihat ada sedikit noda di pipi Ira. Tahu akan hal itu, laki-laki itu langsung saja membersihkan pipi cantiknya Ira. “eh” kaget Ira. Sambil tersenyum, laki-laki itu mengusap pipi Ira dengan lembut “kamu cantik”. Wajah Ira tiba-tiba memerah. Laki-laki itu sadar bahwa wajah Ira memerah karna dia malu. Tiba-tiba pipi Ira dicubitnya dengan gemas “iiiihh kamu imut banget sih Ira”.
            Ira yang menjerit ke sakitan, memukul-mukul tubuh laki-laki itu agar jarinya terlepas dari pipinya. “sakiiiittt !. Tega banget sih kamu”
            “habis aku gemas sama kamu”
            “tapi gak gini juga kali”
            “sorry” sambil tersenyum nakal
            Beberapa menit kemudian. Mereka saling terdiam. Ira yang baru saja menghabiskan ice creamnya memukul pundak laki-laki itu. “eh ngomong-ngomong. Aku belum tau loh nama kamu siapa ?”. Laki-laki itu langsung terdiam. “kamu pengen tau banget ?”
            “iyah”
            “mau tau banget atau mau tau aja ?”
            “eeemm dua-duanya sih”
            Laki-laki itu terdiam sejenak sambil menghabiskan ice creamnya. “oh iya bagaimana dengan kabar tim basket Banu ?”
            “tim basket Banu ? apa hubungannya sama nama kamu ?”
            Laki-laki itu mendekati wajah Ira, spontan wajah Ira mengekspresikan bingung.  “kau ingat dengan final basket O2SN antara sekolah Antariksa dan sekolah Mardiyuana?” laki-laki itu mencoba mengingatkan sesuatu. Ira tentu saja ingat betul tentang pertandingan olahraga elit tersebut. Ira pun mengangguk menandakan bahwa ia mengingat akhir pertandingan tersebut. “perkenalkan . . aku Lintang dari tim basket Antariksa” sambil mengulurkan tangannya. Ira seperti baru saja bertemu dengan sosok artis terkenal yang ia idolakan. Ira terkejut dan terdiam. Ira tidak menyangka bahwa sodaranya ini adalah anak tim basket yang terkenal wajah yang tampan, skill dalam bermain yang hebat, dan yang paling mencengangkan dia banyak penggemar di sekolah Ira.