Sabtu, 05 November 2016

Understanding


"Kau tau apa yang paling menyakitkan di dunia ini ?", tanya ku.
"Apa itu ?"
"Sesuatu yang sudah kau perjuangkan, namun perjuangan itu tidak ada harganya sama sekali"
"Oh, ya ?"
"Ya"
"Apa kamu merasa seperti itu ?"
"Sedikit"
"Kau yakin ?"
Aku hanya terdiam, menundukkan kepala sembari menahan air mata yang siap akan jatuh.
"Hei", membalikkan tubuh ku lalu mengangkat kepala ku sambil berkata, "kenapa kau menangis ?"
Aku tidak menjawab. Yang aku rasakan hanya perih di dada ini. Ia memeluk seketika dan mengelus rambut ku yang terurai rapih.
"Sudahlah. Apapun yang menyakiti, akan kita tutupi dengan hal-hal terindah yang akan kita lakukan"
Aku melepaskan pelukannya, lalu menatapnya. "Janji ?", tanya ku. Ia hanya mengangguk dengan senyumannya.
°°°°°°°°
Aku sibuk dengan tulisan dan tugas hari ini. Aku benar-benar tidak bisa diganggu. Orang yang bertanya pada ku pada saat itu juga aku abaikan. Teman kelompok ku memang menyebalkan, seluruh tugas kelompok ku selesaikan oleh ku seorang diri.
"Marwa! Marwa! Marwa!"
Aku mengabaikan seseorang yang memanggil nama ku dari kejauhan di luar kelas sana.
"Marwa!"
Tetap saja, aku masih terpaku pada tugas ku yang harus ku selesaikan sekarang juga. Difikiran ku saat ini hanya untuk menyelesaikan tugas, sebelum guru mata pelajaran Bahasa Indonesia datang.
"Marwa! Marwa!"
Kini suara itu seolah semakin mendekat. Aku mendengar langkah kaki menghampiri kelas ku. Beberapa teman ku menatap ku dengan tatapan heran.
Brakkkkkk!!
Aku sontak kaget mendengar sesuatu terhantam begitu saja ke tembok. Aku melihat ke arah sumber bunyi itu. Aku melihat sosok orang yang paling ku cintai sekaligus paling ku benci di dunia ini. Nurfan. Ia menghampiri ku dengan tatapan tajam ke arah ku. Aku menatapnya balik. Aku tau niat dia saat ini terhadap ku. Sebelum dia melakukannya, aku akan melakukannya terlebih dahulu. Aku berdiri dan berteriak padanya.
"Kaluar kamu!!", teriak ku sambil menunjuk ke arah pintu kelas.
Dia sempat terhenyak mendengar suara lantang ku memakinya. Namun dia tidak pantang menyerah. Dia menarik lengan ku dan menyeret ku keluar kelas.
Aku ditarik olehnya. Sungguh menjengkelkan. Aku mencoba menepiskan cengkramannya, namun tidak bisa. Aku terpogoh-pogoh mengikuti langkah kakinya yang lebar.
"Nurfan! Ada apa sih ?", tanya ku. Dia terdiam, sibuk membawa ku entah kemana. Sampai akhirnya kami berhenti di belakang kantin sekolah. Nafas ku terengah-engah. Dia menatap ku yang kelelahan. Aku mengatur nafas ku dan mulai bicara.
"Ada sih ? Ko tiba-tiba narik aku gitu aja", tanya ku.
Dia masih menatap ku yang kelelahan. Nafas ku sudah teratur, namun raga ini masih belum pulih. Aku memalingkan pandangan ku ke arah kantin. Aku sungguh kehausan. Rasanya tenggorokan ini akan terasa lega apabila ada sesuatu yang mengalir di dalamnya. Aku melihat bibi kantin menuangkan jus jambu ke dalam kemasan minuman.
"Jangan kemana-kemana", ucapnya.
Aku melirik ke arahnya. Lalu pergi menghiraukan ucapannya. Tangan ku di tarik olehnya. Aku mulai geram terhadapnya. Aku menepiskan tangannya dan mulai pergi kembali. Dia menarik tangan ku lagi. Kali ini aku berteriak.
"Ada apa sih ?!", tanya ku kepadanya.
Aku benar-benar ke hausan, tidak sempat melihat raut wajahnya yang begitu sedih. Aku meleos begitu saja. Kini dia mengejar ku dan menarik tangan ku lagi. Dia menarik tubuh ku, dan cupppp. Kami berciuman.
Sungguh perasaan ini tidak karuan. Bahagia, kaget, kesal, haus, lelah, sedih, semua bersatu. Aku merasakan air hangat mengalir di pipi ku dan pipi Nurfan. Ku buka mata ku. Aku melihat ia menangis. Aku melepaskan ciuman kami dengan perlahan. Aku menatap matanya. Penuh dengan seribu pertanyaan di dalamnya. Aku mencoba menghapus air matanya. Dia menahan tangan ku.
"Kenapa kau tidak jujur pada ku ?", tanya Nurfan.
Aku mengerutkan dahi. Tidak mengerti maksud dari pertanyaannya.
"Kenapa kau tidak jujur pada ku ?!", tanya Nurfan sedikit menaik intonasinya.
"Jujur soal apa ?", tanya ku.
"Jujur soal apa. Kamu masih bertanya jujur soal apa ?!", Nurfan mulai mencengkram pundak ku.
Aku memekik kesakitan. "Sekarang katakan apa yang kamu sembunyikan", ujarnya. Aku masih tidak mengerti. Aku mengerutkan dahi dan menggeleng tidak mengerti.
"'Aku akan pindah ke Amerika, fan. Aku akan tinggal di sana'. Coba katakan itu pada ku", jelasnya sambil mengguncangkan tubuh ku.
Aku seketika terdiam. Tidak mengatakan apapun. Nurfan tau rencana keluarga ku. Nurfan tau aku akan pindah. Nurfan tau aku akan tinggal di Amerika. Nurfan tau aku akan meninggalkannya. Dia tahu. Dia tahu.
"Ayo. Coba kamu katakan itu pada ku. Ayo", ucapnya memaksa.
"Marwa. Aku bicara baik-baik. Coba kamu katakan hal itu pada ku", ucapnya dengan intonasi menurun.
Aku menunduk. Tidak kuasa menatap matanya.
"Mar, aku cuma pengen denger kamu ngomong kaya gitu ke aku", ucapnya lagi memohon sambil menahan ke sedihan di dalam hatinya.
Mata ku mulai menitikan air mata. Rasanya sakit menerima kenyataan ini. Ini semua salah ku. Aku belum siap menghadapi ini semua. Namun takdir berkata lain. Aku harus menghadapi masalah ini.
"Maaf", ucap ku lirih.
Nurfan menatap ku dengan lekat. "Huh. Bukan itu yang ingin aku dengar. Aku pengen kamu bilang--"
"Cukup, fan. Kamu enggak ngerti. Maaf selama ini aku udah berbohong sama kamu"
Nurfan melepas cengkramannya. Dia melangkah mundur. Menyenderkan tubuhnya di tembok. Dia menatap kosong ke arah langit. Aku mencoba mendekatinya. Ku sandarkan juga tubuh ku di tembok. Aku mengehala nafas dalam-dalam.
Kriiiinnnngg! Kriiiiinngg!
Bel masuk berbunyi. Kami seharusnya masuk ke dalam kelas masing-masing. Namun kaki enggan meninggalkan tempat ini. Perasaan ini masih tidak karuan. Sesaat aku dibawa terbang ke langit, namun tiba-tiba dihempaskan bersamanya ke bumi. Kami berdua saling menyakiti. Kami terdiam. Tidak saling membuka pembicaraan. Kami hanya butuh menenangkan diri. Mengerti satu sama lain.
"Baiklah. Setidaknya masih ada waktu", dia beranjak dan tersenyum ke arah ku.
Aku menatapnya sedikit heran. "Hei. Bukannya kamu lagi ngerjain tugas Bahasa Indonesia ? Mata pelajaran pertama Bahada Indonesia kan ?"
Aku melipat tangan ku di bawah dada. "Kamu baru sadar apa yang kamu lakuin itu udah bikin kita bolos 1 jam pelajaran", ujar ku
Dia tertawa renyah. "Bolos sekali-kali enggak apa-apap, kan ?"
Aku mendelekkan mata. "Eh, bukannya kamu haus. Ayo aku tlaktir minum di kantin bibi"
"Wah, serius ?", tanya ku seketika sumringah mendengar kata tlaktir.
Dia mengangguk dan mengusap rambut ku. "Dengar kata tlaktir aja, mata hijau langsung"
Aku tersenyum jahil kepadanya. Aku dengan Nurfan bolos 1 jam pelajaran. Kami menikmati minuman dengan ditemani perbincangan hangat. Seolah pertengkaran kami pada saat itu terlupakan seketika. Semua hanya butuh waktu, butuh berfikir, dan menata hati yang kecewa.
°°°°°°°°°

Tidak ada komentar:

Posting Komentar