SEMANGAT GENERASI INDONESIA
Sorot matahari masih
malu-malu untuk menampakan keindahannya. Raiqa membuka jendela kamarnya dan melihat ke
arah langit. “indah sekali”, ujarnya
dalam hati terpana akan keindahan Sun
Rice yang ia lihat. Raiqa menggeleng
tersadar akan lamunannya yang terpesona dengan keindahan langit.
“di Jawa juga pasti ada keindahan seperti ini…”, Raiqa termenung dan menghela nafas dalam-dalam. “…namun di tempat tertentu saja bisa terlihat”.
Raiqa mengambil handuk yang tergantung di atas tali jemuran, lalu bergegas pergi ke kamar mandi. Hari ini adalah hari pertama Raiqa masuk sekolah barunya.
Sejujurnya Raiqa enggan menuruti tawaran orang tuanya untuk pindah dari kampung halamannya. Namun Raiqa lelah hidup berjauhan dengan orang tua. Ia memutuskan ikut tinggal di pulau terbesar ke-4 di dunia. Pulau “Borneo”. Dan yang hanya di fikiran Raiqa adalah pulau ini hanya ada hutan belantara yang akan menyiksakan hidupnya. Tidak akan ada tempat yang mengasikan. Tidak akan menikmati suasana ramai seperti di Jawa. Akan sangat membosankan. Dan yang paling Raiqa takutkan. Ketika dia kembali lagi ke tempat asalnya “jawa” dia takut akan diolok-olokkan oleh teman-temannya bahwa dia berasal dari hutan berlantara. Itu sangat mengerikan baginya.
Hari pertama masuk sekolah. Raiqa sudah kebingungan akan komunikasi dengan teman-teman barunya. Walau bahasanya campur antara bahasa daerah Kalimantan dengan bahasa Indonesia baku, tapi terkesan aneh untuk Raiqa. Raiqa yang terbiasa menggunakan logat sunda namun campuran betawi itu, tidak bisa sembarangan menggunakan bahasa itu. Ada beberapa kata yang arti dalam bahasa daerah Kalimantan itu A (positif) namun bila di artikan ke dalam bahasa sunda itu B (negarif). Ada pun sebaliknya begitu. Itu membuat Raiqa lebih berhati-hati.
Aura atmosfer di tempat barunya sangat berbeda. Mulai dari bahasa, logat, perilaku, pergaulan, selera humoris, budaya, adat, kesenian, sampai tren&trendy di tempatnya sangat berbeda.
Raiqa sangat mencintai seni. Semua seni sangat dia gemari, namun hanya seni rupa yang tidak bisa dia kuasai. Di sekolah lamanya adalah salah satu tempat perjodohan anatara dia dan seni. Di sana dia bisa menikmati semua sarana seni yang ada. Seni sudah sangat melekat dalam jiwanya. Tapi ketika dia pindah, semangatnya berkurang.
“ikam1 mau ikut ekskul apa ?”, tanya salah seorang teman baru Raiqa yang bernama Lumita.
“di sini ada ekstra teater?”, tanya Raiqa.
“ada”, jawab Lumita.
“iya, aku mau ikut ekstra teater”, jawab Raiqa memberikan senyuman ramahnya. Teman-teman Raiqa memangut-mangut.
Singkat cerita, 2 bulan sudah terlewati oleh Raiqa. Dia mulai dapat berbaur dengan teman-teman barunya, walau tidak sebebas di sekolah lamanya. Raiqa selalu memperhatikan tingkah laku, perilaku, dan karakter teman-temannya.
“mereka itu sama sepertiku. Mereka anak Indonesia. Mereka generasi Indonesia yang kelak akan memegang Negara ini. Kami, dengan segala perbedaan suku, agama, ras, dan antar golongan akan mewujudkan dan mempertahankan semboyan kami ‘Bhineka Tunggal Ika’” –Raiqa M Rayya.
“di Jawa juga pasti ada keindahan seperti ini…”, Raiqa termenung dan menghela nafas dalam-dalam. “…namun di tempat tertentu saja bisa terlihat”.
Raiqa mengambil handuk yang tergantung di atas tali jemuran, lalu bergegas pergi ke kamar mandi. Hari ini adalah hari pertama Raiqa masuk sekolah barunya.
Sejujurnya Raiqa enggan menuruti tawaran orang tuanya untuk pindah dari kampung halamannya. Namun Raiqa lelah hidup berjauhan dengan orang tua. Ia memutuskan ikut tinggal di pulau terbesar ke-4 di dunia. Pulau “Borneo”. Dan yang hanya di fikiran Raiqa adalah pulau ini hanya ada hutan belantara yang akan menyiksakan hidupnya. Tidak akan ada tempat yang mengasikan. Tidak akan menikmati suasana ramai seperti di Jawa. Akan sangat membosankan. Dan yang paling Raiqa takutkan. Ketika dia kembali lagi ke tempat asalnya “jawa” dia takut akan diolok-olokkan oleh teman-temannya bahwa dia berasal dari hutan berlantara. Itu sangat mengerikan baginya.
Hari pertama masuk sekolah. Raiqa sudah kebingungan akan komunikasi dengan teman-teman barunya. Walau bahasanya campur antara bahasa daerah Kalimantan dengan bahasa Indonesia baku, tapi terkesan aneh untuk Raiqa. Raiqa yang terbiasa menggunakan logat sunda namun campuran betawi itu, tidak bisa sembarangan menggunakan bahasa itu. Ada beberapa kata yang arti dalam bahasa daerah Kalimantan itu A (positif) namun bila di artikan ke dalam bahasa sunda itu B (negarif). Ada pun sebaliknya begitu. Itu membuat Raiqa lebih berhati-hati.
Aura atmosfer di tempat barunya sangat berbeda. Mulai dari bahasa, logat, perilaku, pergaulan, selera humoris, budaya, adat, kesenian, sampai tren&trendy di tempatnya sangat berbeda.
Raiqa sangat mencintai seni. Semua seni sangat dia gemari, namun hanya seni rupa yang tidak bisa dia kuasai. Di sekolah lamanya adalah salah satu tempat perjodohan anatara dia dan seni. Di sana dia bisa menikmati semua sarana seni yang ada. Seni sudah sangat melekat dalam jiwanya. Tapi ketika dia pindah, semangatnya berkurang.
“ikam1 mau ikut ekskul apa ?”, tanya salah seorang teman baru Raiqa yang bernama Lumita.
“di sini ada ekstra teater?”, tanya Raiqa.
“ada”, jawab Lumita.
“iya, aku mau ikut ekstra teater”, jawab Raiqa memberikan senyuman ramahnya. Teman-teman Raiqa memangut-mangut.
Singkat cerita, 2 bulan sudah terlewati oleh Raiqa. Dia mulai dapat berbaur dengan teman-teman barunya, walau tidak sebebas di sekolah lamanya. Raiqa selalu memperhatikan tingkah laku, perilaku, dan karakter teman-temannya.
“mereka itu sama sepertiku. Mereka anak Indonesia. Mereka generasi Indonesia yang kelak akan memegang Negara ini. Kami, dengan segala perbedaan suku, agama, ras, dan antar golongan akan mewujudkan dan mempertahankan semboyan kami ‘Bhineka Tunggal Ika’” –Raiqa M Rayya.
P
P
P
P
P
Padamu Negeri Kami Berjanji
Padamu Negeri Kami Berbakti
Padamu Negeri Kami Mengabdi
Bagimu Negeri Jiwa Raga Kami
Padamu Negeri Kami Berbakti
Padamu Negeri Kami Mengabdi
Bagimu Negeri Jiwa Raga Kami
Lantunan lagu kebangsaan Indonesia yang sering
dinyanyikan sepulang sekolah oleh siswa & siswi sekolah Raiqa.
Murid-murid berlalu lalang. Raiqa terdiam sendiri, menunggu adiknya keluar dari kelas. Saat menunggu, terdengar alulan musik daerah, membuat Raiqa berdiri dan mengikuti arah musik daerah itu. Raiqa menyusuri suara indah itu. Dia menaiki anak tangga satu persatu, hingga dia sampai di depan aula. Raiqa mengintip ke dalam aula tesebut. Terlihat penari-penari yang sedang melenggang di dalam aula. Tiba-tiba terlukis pelangi terbalik di wajahnya.
“mereka pasti sangat bangga dengan identitas daerah mereka. Terlihat dari sorot wajah mereka. Mereka dengan semangat, tekun, dan berusaha agar gerakannya bisa menyerupai pelatih yang sudah mahir dengan gerakannya. Akan sangat bangga sekali membawa atau memperkenalkan identitas daerah sendiri”, batin Raiqa.
1 Oktober. Terlihat beberapa warga yang sedang mempersiapkan acara yang sering di rayakan setiap 1 tahun sekali. “Pawai Nasi Kuning”. Acara tersebut di rayakan pada setiap tanggal 3 Oktober. Raiqa pun tidak luput untuk mempersiapkan acara tersebut di sekolahnya.
“Eh mau bikin hiasan apa bah2 buat pawai nanti?”, tanya salah seorang teman Raiqa dengan logat kental bahasa daerahnya, Agung
“Gak tau. Aku malas ikut-ikutan”, celetuk teman Raiqa, Shafira.
“Niko, bagaimana ni kelas kita? Ikam1 tuh ketua kelas mah2”
“Apa nah2? Coba ikam tanya sidakam4,2 tuh. Absen sekalian am2 gung” jawab Niko acuh tak acuh.
“bagaimana ini? Kada5 yang mau berpartisipasi dalam acara pawai”
“ya sudaham. Kalo kada5 yang mau ikut acara pawai, gak perlu ikam1 pikirkan. Pusing-pusing sendiri lok2”, ucap Daniel dengan santainya.
Raiqa yang melihat percakapan mereka termenung. “kenapa disaat orang-orang bersemangat mempersiapkan acara adat daerah mereka, ada saja orang yang sama sekali tidak peduli dengan budaya mereka “, batin Raiqa.
2 Oktober. Sekolah Raiqa mengadakan gladi bersih untuk acara Pawai Nasi Kuning. Selagi sekolah mempersiapkan dengan matang pemeriah, setiap kelas di sekolah Raiqa, harus mengirim 1 pemeriah acara pawai tersebut. Bila tidak, akan dikenakan denda bagi kelas tersebut.
Teman Raiqa yang mengabaikan acara pawai ini, hanya menganggap enteng denda tersebut. Bukan soal denda itu, tapi kepedulian terhadap budaya yang sangat disayangkan. Itu sama saja menjual kebudayaan sendri walau kecil dampaknya. Namun bila itu terus dibiasakan, akan berdampak buruk bagi masa depan Negara ini.
Raiqa tidak bisa berdiam membayangkan itu semua akan terjadi. Harus ada yang menyadarkan mereka. Raiqa mengajak teman kelasnya yang ikut dalam pemeriah, untuk berkumpul membicarakan acara pawai ini. Untung saja ada temannya yang peduli dengan acara ini. Namun mereka kewalahan dalam mempersiapkan pemeriah tanpa anak laki-laki. Hanya 2 orang anak laki-laki yang membantu mereka.
“Faisal, lakas6 bah2. Ikam1 tuh masang tiang macam tuh susahnya minta ampun”, omel Erika.
“Sabar mah2. Aku ini juga lagi hati-hati”, ucap Faisal.
“ngeles aja”, omel Erika lagi.
“laki-laki yang lainnya tuh bah2. Bantu kami”, ucap Algi.
“mana ada yang mau? Sidanya4 tuh susah disuruh. Malas-malasan buat ikutan acara macam ni”, ucap Erika.
“Gak adil baaah2. Sidanya tuh nanti cuma ikut ucapara saja, terus pulang. Enaknyaa”, keluh Algi.
“bujur3 gi”, ucap Faisal menyetujui.
“sidakam4,2 tuh. Kita buat pemeriah untuk kelas kita juga bah2. Gak usah iri-irian sama orang yang gak berguna tuh. Sudaham, lakas6 benarkan tiang itu, sal”
Raiqa terdiam. Raiqa tampak geram. Raiqa sudah tidak tahan dengan orang-orang yang harus diperbaiki kesadarannya. Raiqa berdiri dan menginggalkan kelasnya.
“Raiqa! Ikam1 mau kemana?”, teriak Erika. Raiqa tidak menyahut pertanyaan Erika.
Dengan nafas yang berhembus kencang, mata Raiqa mejelajah kesetiap sudut-sudut sekolah mencari segerombolang itu. “dimana mereka?”, dengus Raiqa. Raiqa melihat kumpulan laki-laki itu yang sedang asik berbincang. Raiqa menghampiri mereka. “hidup lo semua kebanyakan makan manisnya doang yah”, celetuk Raiqa. Sekumpulan laki-laki itu terdiam menatap Raiqa dengan tatapan bertanya.
“kalian orang yang bisa diandelin enggak? yang berguna sedikit gituh?”, tanya Raiqa dengan nada yang sedikit sinis. Teman-teman Raiqa masih tetap memperhatikan Raiqa dengan tatapan yang sama.
“kalian cuma sampah!”, bentak Raiqa dan pergi meninggalkan mereka. Namun salah seorang teman Raiqa menahan tangannya dan membuat Raiqa menoleh. “apa?!”, tanya Raiqa kasar, lalu menepis tangan laki-laki itu.
“ikam1 tuh kenapa mah2? Baru datang sudah marah-marah”, tanya teman Raiqa, Nandi. Raiqa menatap tajam Nandi dan segerombolannya lalu meleos kembali. Namun lagi-lagi tangannya di tahan oleh Nandi. “apaan sih?!”, Raiqa menepis tangan Nandi lebih kasar.
“ikam1 lagi PMS? Coba ikam1 jelaskan ada apa. Jangan tiba-tiba marah begitu”, tanya Nandi.
Raiqa menghela nafas dalam-dalam, lalu mengontrol emosinya. “kalian bisa bantu kita?”, tanya Raiqa.
“bantu apa bah2? Tapi jangan ikam1 bilang, kalo kami harus bantu sida4 untuk persiapan pemeriah acara pawai? Kami malas mah”
Emosi Raiqa kembali menaik. Tatapan Raiqa menajam kearah Nandi dan segerombolannya.
“manusia enggak berguna! Cuma meramaikan acara pawai aja kenapa harus males-malesan. Hidup lo semua cuma pengen praktisnya doang”, bentak Raiqa.
“peduli apa ikam1 sama acara itu? Ikam1 tuh bukan asli orang sini, kami yang orang asli sini. Jadi ini acara daerah kami. Terserah kami mah ingin meramaikannya atau tidak”, tanya Yosef sambil berdiri.
“enteng banget lo ngomong kaya gituh. Gue, bukan orang asli disini, tapi lebih peduli sama acara adat daerah sini. Kenapa gue harus peduli? Karna ini salah satu budaya Negara kita. Gue, sama kaya lo semua. Anak bangasa Indonesia”
“ngomongnya ketinggian ikam1 tuh—“
“ketinggian? Sadar dikit dong! Lo semua bisa dicap sampah masyarakat kalo kaya gini terus”
“ikam1 tuh, yang sampah masyarakat. Ngomong aja sok-sokan ‘elu gua’. Kalo marah-marah, ngomongnya kasar”, ujar Nandi
“jangan liat dari kulitnya, jangan liat dari hal negatifnya. Lihat semangat kepedulian anak-anak bangsa di luar sana. Masa kalian semua dengan enaknya, santai-santai, sedangkan di luar sana ada banyak orang yang mempertahankan kebudayaan kita yang sudah diakui oleh Negara lain?”
“lok, masih banyak orangkan? Yasudaham, biarkan saja sidanya4 tuh”, ucap Sandi enteng.
Raiqa mendengus dan menatap sinis Sandi. “pantes saja. Negara Malaysia dengan mudahnya mengklaim kebudayaan milik kita, karena penerus bangsa Indonesia sendiri tidak peduli dengan kebudayaan Negaranya. Sadar dong kalian. Pulau Kalimantan ini menyatu dengan Negara Malaysia. Kalo kita lengah sedikit aja, bukan hanya Malaysia yang mencuri kebudayaan kita, tapi Negara lain juga”
Teman-teman Raiqa berdiam. Mereka seperti memikirkan sesuatu dari setiap kalimat yang diucapkan Raiqa. Raiqa tampaknya senang telah mempengaruhi kesadaran mereka.
“sudah selesai kah2? Sudah selesai merajuknya7 ? Sudah tenang kah ? Nah, sudaham. Balik saja ke kelas, kami malas debat dengan ikam1”
Raiqa tidak menyangkan apa yang sudah Nandi katakan. Ternyata percuma saja Raiqa mengeluarkan emosinya hanya untuk menyadarkan mereka, namun tidak ada satupun ucapan Raiqa yang mereka dengar. Raiqa kembali ke kelasnya dengan perasaan geram.
Murid-murid berlalu lalang. Raiqa terdiam sendiri, menunggu adiknya keluar dari kelas. Saat menunggu, terdengar alulan musik daerah, membuat Raiqa berdiri dan mengikuti arah musik daerah itu. Raiqa menyusuri suara indah itu. Dia menaiki anak tangga satu persatu, hingga dia sampai di depan aula. Raiqa mengintip ke dalam aula tesebut. Terlihat penari-penari yang sedang melenggang di dalam aula. Tiba-tiba terlukis pelangi terbalik di wajahnya.
“mereka pasti sangat bangga dengan identitas daerah mereka. Terlihat dari sorot wajah mereka. Mereka dengan semangat, tekun, dan berusaha agar gerakannya bisa menyerupai pelatih yang sudah mahir dengan gerakannya. Akan sangat bangga sekali membawa atau memperkenalkan identitas daerah sendiri”, batin Raiqa.
1 Oktober. Terlihat beberapa warga yang sedang mempersiapkan acara yang sering di rayakan setiap 1 tahun sekali. “Pawai Nasi Kuning”. Acara tersebut di rayakan pada setiap tanggal 3 Oktober. Raiqa pun tidak luput untuk mempersiapkan acara tersebut di sekolahnya.
“Eh mau bikin hiasan apa bah2 buat pawai nanti?”, tanya salah seorang teman Raiqa dengan logat kental bahasa daerahnya, Agung
“Gak tau. Aku malas ikut-ikutan”, celetuk teman Raiqa, Shafira.
“Niko, bagaimana ni kelas kita? Ikam1 tuh ketua kelas mah2”
“Apa nah2? Coba ikam tanya sidakam4,2 tuh. Absen sekalian am2 gung” jawab Niko acuh tak acuh.
“bagaimana ini? Kada5 yang mau berpartisipasi dalam acara pawai”
“ya sudaham. Kalo kada5 yang mau ikut acara pawai, gak perlu ikam1 pikirkan. Pusing-pusing sendiri lok2”, ucap Daniel dengan santainya.
Raiqa yang melihat percakapan mereka termenung. “kenapa disaat orang-orang bersemangat mempersiapkan acara adat daerah mereka, ada saja orang yang sama sekali tidak peduli dengan budaya mereka “, batin Raiqa.
2 Oktober. Sekolah Raiqa mengadakan gladi bersih untuk acara Pawai Nasi Kuning. Selagi sekolah mempersiapkan dengan matang pemeriah, setiap kelas di sekolah Raiqa, harus mengirim 1 pemeriah acara pawai tersebut. Bila tidak, akan dikenakan denda bagi kelas tersebut.
Teman Raiqa yang mengabaikan acara pawai ini, hanya menganggap enteng denda tersebut. Bukan soal denda itu, tapi kepedulian terhadap budaya yang sangat disayangkan. Itu sama saja menjual kebudayaan sendri walau kecil dampaknya. Namun bila itu terus dibiasakan, akan berdampak buruk bagi masa depan Negara ini.
Raiqa tidak bisa berdiam membayangkan itu semua akan terjadi. Harus ada yang menyadarkan mereka. Raiqa mengajak teman kelasnya yang ikut dalam pemeriah, untuk berkumpul membicarakan acara pawai ini. Untung saja ada temannya yang peduli dengan acara ini. Namun mereka kewalahan dalam mempersiapkan pemeriah tanpa anak laki-laki. Hanya 2 orang anak laki-laki yang membantu mereka.
“Faisal, lakas6 bah2. Ikam1 tuh masang tiang macam tuh susahnya minta ampun”, omel Erika.
“Sabar mah2. Aku ini juga lagi hati-hati”, ucap Faisal.
“ngeles aja”, omel Erika lagi.
“laki-laki yang lainnya tuh bah2. Bantu kami”, ucap Algi.
“mana ada yang mau? Sidanya4 tuh susah disuruh. Malas-malasan buat ikutan acara macam ni”, ucap Erika.
“Gak adil baaah2. Sidanya tuh nanti cuma ikut ucapara saja, terus pulang. Enaknyaa”, keluh Algi.
“bujur3 gi”, ucap Faisal menyetujui.
“sidakam4,2 tuh. Kita buat pemeriah untuk kelas kita juga bah2. Gak usah iri-irian sama orang yang gak berguna tuh. Sudaham, lakas6 benarkan tiang itu, sal”
Raiqa terdiam. Raiqa tampak geram. Raiqa sudah tidak tahan dengan orang-orang yang harus diperbaiki kesadarannya. Raiqa berdiri dan menginggalkan kelasnya.
“Raiqa! Ikam1 mau kemana?”, teriak Erika. Raiqa tidak menyahut pertanyaan Erika.
Dengan nafas yang berhembus kencang, mata Raiqa mejelajah kesetiap sudut-sudut sekolah mencari segerombolang itu. “dimana mereka?”, dengus Raiqa. Raiqa melihat kumpulan laki-laki itu yang sedang asik berbincang. Raiqa menghampiri mereka. “hidup lo semua kebanyakan makan manisnya doang yah”, celetuk Raiqa. Sekumpulan laki-laki itu terdiam menatap Raiqa dengan tatapan bertanya.
“kalian orang yang bisa diandelin enggak? yang berguna sedikit gituh?”, tanya Raiqa dengan nada yang sedikit sinis. Teman-teman Raiqa masih tetap memperhatikan Raiqa dengan tatapan yang sama.
“kalian cuma sampah!”, bentak Raiqa dan pergi meninggalkan mereka. Namun salah seorang teman Raiqa menahan tangannya dan membuat Raiqa menoleh. “apa?!”, tanya Raiqa kasar, lalu menepis tangan laki-laki itu.
“ikam1 tuh kenapa mah2? Baru datang sudah marah-marah”, tanya teman Raiqa, Nandi. Raiqa menatap tajam Nandi dan segerombolannya lalu meleos kembali. Namun lagi-lagi tangannya di tahan oleh Nandi. “apaan sih?!”, Raiqa menepis tangan Nandi lebih kasar.
“ikam1 lagi PMS? Coba ikam1 jelaskan ada apa. Jangan tiba-tiba marah begitu”, tanya Nandi.
Raiqa menghela nafas dalam-dalam, lalu mengontrol emosinya. “kalian bisa bantu kita?”, tanya Raiqa.
“bantu apa bah2? Tapi jangan ikam1 bilang, kalo kami harus bantu sida4 untuk persiapan pemeriah acara pawai? Kami malas mah”
Emosi Raiqa kembali menaik. Tatapan Raiqa menajam kearah Nandi dan segerombolannya.
“manusia enggak berguna! Cuma meramaikan acara pawai aja kenapa harus males-malesan. Hidup lo semua cuma pengen praktisnya doang”, bentak Raiqa.
“peduli apa ikam1 sama acara itu? Ikam1 tuh bukan asli orang sini, kami yang orang asli sini. Jadi ini acara daerah kami. Terserah kami mah ingin meramaikannya atau tidak”, tanya Yosef sambil berdiri.
“enteng banget lo ngomong kaya gituh. Gue, bukan orang asli disini, tapi lebih peduli sama acara adat daerah sini. Kenapa gue harus peduli? Karna ini salah satu budaya Negara kita. Gue, sama kaya lo semua. Anak bangasa Indonesia”
“ngomongnya ketinggian ikam1 tuh—“
“ketinggian? Sadar dikit dong! Lo semua bisa dicap sampah masyarakat kalo kaya gini terus”
“ikam1 tuh, yang sampah masyarakat. Ngomong aja sok-sokan ‘elu gua’. Kalo marah-marah, ngomongnya kasar”, ujar Nandi
“jangan liat dari kulitnya, jangan liat dari hal negatifnya. Lihat semangat kepedulian anak-anak bangsa di luar sana. Masa kalian semua dengan enaknya, santai-santai, sedangkan di luar sana ada banyak orang yang mempertahankan kebudayaan kita yang sudah diakui oleh Negara lain?”
“lok, masih banyak orangkan? Yasudaham, biarkan saja sidanya4 tuh”, ucap Sandi enteng.
Raiqa mendengus dan menatap sinis Sandi. “pantes saja. Negara Malaysia dengan mudahnya mengklaim kebudayaan milik kita, karena penerus bangsa Indonesia sendiri tidak peduli dengan kebudayaan Negaranya. Sadar dong kalian. Pulau Kalimantan ini menyatu dengan Negara Malaysia. Kalo kita lengah sedikit aja, bukan hanya Malaysia yang mencuri kebudayaan kita, tapi Negara lain juga”
Teman-teman Raiqa berdiam. Mereka seperti memikirkan sesuatu dari setiap kalimat yang diucapkan Raiqa. Raiqa tampaknya senang telah mempengaruhi kesadaran mereka.
“sudah selesai kah2? Sudah selesai merajuknya7 ? Sudah tenang kah ? Nah, sudaham. Balik saja ke kelas, kami malas debat dengan ikam1”
Raiqa tidak menyangkan apa yang sudah Nandi katakan. Ternyata percuma saja Raiqa mengeluarkan emosinya hanya untuk menyadarkan mereka, namun tidak ada satupun ucapan Raiqa yang mereka dengar. Raiqa kembali ke kelasnya dengan perasaan geram.
P
P
P
P
3 Oktober. Pagi
sekali orang-orang sudah mempersiapkan pernak-pernik dan hiasan untuk
berkeliling kota. Dari berbagai desa, kecamatan, rt, perumahan, dan gang di
setiap perumahan, mereka dengan semangat bersiap-siap untuk memeriahkan ulang
tahun kota mereka. Raiqa berpartisipasi
dengan acara ini di sekolahnya. Sekolah
Raiqa sudah mempersiapkan acara dengan sangat matang. Setiap kelas harus memengirim 1
pemeriah. Suasana di depan sekolah Raiqa
sangat ramai dengan siswa/siswi yang menggunakan baju adat mereka. Raiqa dengan bangga dan senang mengenakan
baju adat khas dari Kalimantan tersebut.
Raiqa dan teman-temannya yang berpartisipasi tidak lupa untuk
mengabadikan momentum yang hanya berlangsung 1 tahun sekali ini.
“eh sidanya4 Nandi kemana ? Belum datang kah2 ? Mereka walaupun kada5 ikut pawai, tapi harus ikut upacara”, ucap Erika.
“eh iya lok2. Sida4 Nandi mana? Cari bah2, nanti dihukum bu kepsek kalo kada5 ikut upacara. Kasihan mereka”, lanjut Indah, salah satu teman kelas Raiqa.
“biarin aja mereka dihukum. Kan itu emang salah mereka sendiri. Udah enggak mau ikut pawai, bantu mempersiapkan pemeriah kelas aja enggak mau, nah sekarang, mereka juga enggak mau ikut upacara. Hidup mereka emang enggak ada gunanya”, ucap Raiqa dengan sinis.
“Ujar siapa kami orang kada5 gunanya ? Tarik lagi ucapan ikam1 tuh Raiqa”, suara laki-laki tadi membuat Raiqa terkejut akan ucapannya. Suara laki-laki terdengar di belakang Raiqa. Raiqa kenal sekali dengan suara itu. Dengan menghela nafas dalam-dalam dan mengatur emosinya, Raiqa beralik badan. Raiqa terhenyak melihat apa yang ada di hadapannya. Segerombolan pengacau datang dengan penampilan yang kumuh dan aneh. Emosi Raiqa mulai naik.
“apa yang mau kalian lakukan ? Mau jadi pengacau ?!”, tanya Raiqa sedikit berteriak.
“keramput8! Ikam1 tuh selalu berfikiran negative terhadap kami. Kami itu mau ikut pawai lah”
“dengan berpenampilan seperti itu ? Dimana seragam kalian ?!”
“hahahah”, tawa segerombolan pengacau teman Raiqa. Raiqa meresa ini benar-benar sudah keterlaluan.
“kada5 usah marah begitu qa. Kami ini mau ikut pawai, mau memeriahkan ulang tahun kota kita. Apa salah kami ikut pawai ?”
“tapi dimana—“
Segerombolan pengacau teman Raiqa mengeluarkan seragam dari tas mereka. “kami enggak lupa buat bawa ini. Ohiya, kelas kita nih belum ada maskotnya kah2 ? Ya sudaham, biar kami saja yang jadi maskot”, ucap Nandi sambil memberikan senyuman kepada Raiqa.
Emosi Raiqa meredam. Kini yang Raiqa rasakan adalah rasa bangga dan senang, karena telah mampu menyadarkan mereka akan kepedulian terhadap budaya daerah mereka. Senyum Raiqa kini terlihat. Raiqa memukul pundak Nandi dengan senyuman ‘selamat’. Nandi pun membalasnya dengan senyuman juga.
Pawai pun dimulai. Acara dimulai dengan mengelilingi kota. Sekolah Raiqa berjalan mengikuti rute yang sudah di tentukan oleh panitia acara tersebut. Raiqa dengan teman-temannya berjalan dan sesekali mereka mengabadikan momentum dengan maskot-maskot kelas lain.
Setelah selesai berkeliling kota. Upacara di sekolah pun di mulai. Ada pun perwakilan dari sekolah untuk ikut upacara di kantor wali kota. Setelah upacara. Raiqa dan teman-temannya pergi ke tempat dimana salah satu teman Raiqa ikut pemilihan sebagai “Putra-Putri Pariwisata”. Banyak sekali yang mengkuti ajang pemilihan”Putra-Putri Pariwisata”. Syarat yang harus di laksanakan untuk mengikuti ajang ini, mereka harus memiliki bakat apa saja dan tentunya bisa menarik hati para juri, mereka juga harus memiliki jiwa kecerdasan yang tinggi, dan tentunya mahir dalam berbahasa Inggris.
Raiqa kini sadar, banyak hal yang ia ambil dalam kehidupan ini. Raiqa sangat bersyukur karena ditakdirkan untuk merasakan indahnya dunia dan kebudyaan Negara Indonesia. Teman-temannya yang berada di Jawa, belum tentu bisa melihat, mengenal, merasakan, ikut berpartisipasi, bahkan ikut melestarikan kebudayaan di Kalimantan. Raiqa bertekad, sepulangnya ia ke Jawa, ia akan mulai melestarikan kebudayaan di sana. Raiqa juga bertekad untuk mengelilingi Indonesia, dan mengenal lebih dalam kebudayaan Indonesia
“berbanggalah dengan kebudayaan Negera kita, Negara Indonesia. Selalu lestarikan kebudayaan yang sudah menjadi tanda pengenal bagi Negara Indonesia. Kobarkan semangat cinta akan kebudayaan milik kita. Tunjukan pada dunia, betapa indahnya kebudayaan kita, Indonesia” –Raiqa M Rayya.
“eh sidanya4 Nandi kemana ? Belum datang kah2 ? Mereka walaupun kada5 ikut pawai, tapi harus ikut upacara”, ucap Erika.
“eh iya lok2. Sida4 Nandi mana? Cari bah2, nanti dihukum bu kepsek kalo kada5 ikut upacara. Kasihan mereka”, lanjut Indah, salah satu teman kelas Raiqa.
“biarin aja mereka dihukum. Kan itu emang salah mereka sendiri. Udah enggak mau ikut pawai, bantu mempersiapkan pemeriah kelas aja enggak mau, nah sekarang, mereka juga enggak mau ikut upacara. Hidup mereka emang enggak ada gunanya”, ucap Raiqa dengan sinis.
“Ujar siapa kami orang kada5 gunanya ? Tarik lagi ucapan ikam1 tuh Raiqa”, suara laki-laki tadi membuat Raiqa terkejut akan ucapannya. Suara laki-laki terdengar di belakang Raiqa. Raiqa kenal sekali dengan suara itu. Dengan menghela nafas dalam-dalam dan mengatur emosinya, Raiqa beralik badan. Raiqa terhenyak melihat apa yang ada di hadapannya. Segerombolan pengacau datang dengan penampilan yang kumuh dan aneh. Emosi Raiqa mulai naik.
“apa yang mau kalian lakukan ? Mau jadi pengacau ?!”, tanya Raiqa sedikit berteriak.
“keramput8! Ikam1 tuh selalu berfikiran negative terhadap kami. Kami itu mau ikut pawai lah”
“dengan berpenampilan seperti itu ? Dimana seragam kalian ?!”
“hahahah”, tawa segerombolan pengacau teman Raiqa. Raiqa meresa ini benar-benar sudah keterlaluan.
“kada5 usah marah begitu qa. Kami ini mau ikut pawai, mau memeriahkan ulang tahun kota kita. Apa salah kami ikut pawai ?”
“tapi dimana—“
Segerombolan pengacau teman Raiqa mengeluarkan seragam dari tas mereka. “kami enggak lupa buat bawa ini. Ohiya, kelas kita nih belum ada maskotnya kah2 ? Ya sudaham, biar kami saja yang jadi maskot”, ucap Nandi sambil memberikan senyuman kepada Raiqa.
Emosi Raiqa meredam. Kini yang Raiqa rasakan adalah rasa bangga dan senang, karena telah mampu menyadarkan mereka akan kepedulian terhadap budaya daerah mereka. Senyum Raiqa kini terlihat. Raiqa memukul pundak Nandi dengan senyuman ‘selamat’. Nandi pun membalasnya dengan senyuman juga.
Pawai pun dimulai. Acara dimulai dengan mengelilingi kota. Sekolah Raiqa berjalan mengikuti rute yang sudah di tentukan oleh panitia acara tersebut. Raiqa dengan teman-temannya berjalan dan sesekali mereka mengabadikan momentum dengan maskot-maskot kelas lain.
Setelah selesai berkeliling kota. Upacara di sekolah pun di mulai. Ada pun perwakilan dari sekolah untuk ikut upacara di kantor wali kota. Setelah upacara. Raiqa dan teman-temannya pergi ke tempat dimana salah satu teman Raiqa ikut pemilihan sebagai “Putra-Putri Pariwisata”. Banyak sekali yang mengkuti ajang pemilihan”Putra-Putri Pariwisata”. Syarat yang harus di laksanakan untuk mengikuti ajang ini, mereka harus memiliki bakat apa saja dan tentunya bisa menarik hati para juri, mereka juga harus memiliki jiwa kecerdasan yang tinggi, dan tentunya mahir dalam berbahasa Inggris.
Raiqa kini sadar, banyak hal yang ia ambil dalam kehidupan ini. Raiqa sangat bersyukur karena ditakdirkan untuk merasakan indahnya dunia dan kebudyaan Negara Indonesia. Teman-temannya yang berada di Jawa, belum tentu bisa melihat, mengenal, merasakan, ikut berpartisipasi, bahkan ikut melestarikan kebudayaan di Kalimantan. Raiqa bertekad, sepulangnya ia ke Jawa, ia akan mulai melestarikan kebudayaan di sana. Raiqa juga bertekad untuk mengelilingi Indonesia, dan mengenal lebih dalam kebudayaan Indonesia
“berbanggalah dengan kebudayaan Negera kita, Negara Indonesia. Selalu lestarikan kebudayaan yang sudah menjadi tanda pengenal bagi Negara Indonesia. Kobarkan semangat cinta akan kebudayaan milik kita. Tunjukan pada dunia, betapa indahnya kebudayaan kita, Indonesia” –Raiqa M Rayya.
2Kata berimbuhan
3Benar
4Kalian (sidakam) Mereka (sida) Mereka Si A (Sidanya)
5Tidak ada
6Cepat
7Marah-marah
8Intinya bahasa kasar