Senin, 07 November 2016

Flashback

Nurfan adalah sahabat ku sejak kami duduk di bangku SD. Awal pertemuan kami sangat sederhana. Berawal dari Nurfan, pada saat kami SD, dia pulang sekolah sering sekali melewati rumah ku. Kebetulan sekali aku sering melihatnya. Kami saling bertatap dan tersenyum.
Pada suatu hari di sekolah. Pada jam pelajaran olahraga. Dia memperhatikan ku yang sedang menyantap makanan di pinggir lapangan. Dia menghampiri ku lalu duduk tepat di samping ku.
"Kamu mau ?", dia menyodorkan sepotong sandwich miliknya.
Awalnya aku ragu untuk mengambil sepotong sandwich itu. Aku menatapnya dan menatap sandwich itu secara bergantian.
"Ambilah. Ini enak", ucapnya dengan senyuman manisnya.
Mulai dari itu, aku suka sekali ukiran pelangi terbalik yang dia miliki di wajahnya. Aku mengambil roti isi itu, lalu menyantapnya. Dia seperti menunggu sesuatu, memperhatikan wajahnya ku yang sedang mengunyah roti isi itu. Aku meliriknya. Aku memberikan eskpresi 'apa ?’ kepadanya.
"Enak ?"
Aku mengangguk sambil tersenyum. Senyum merekah seketika. Kami saling tertawa bersama.
"Lain waktu kita bisa menukar bekal kita. Kamu berarti harus membawa bekal. Nanti diantara kita saling mengomentari bekal masing-masing. Biar kita tahu, bagaimana rasa masakan Ibu kita masing-masing", pintanya panjang lebar.
Aku hanya terdiam melihat wajahnya yang masih melekat pelangi terbalik di wajahnya. "Bagaimana ? Kamu setuju ?"
Aku melihat makanan yang biasa ku beli di kantin. Ide bagus juga bila membawa bekal, pikir ku pada saat itu. Aku mengangguk.
"Berjanjilah ?", dia mengambil tangan ku dan mengacungkan jari kelingking ku lalu mengaitkannya pada jari kelingking miliknya.
"Baiklah. Mulai besok kau harus membawa bekal mu"
Aku mengangguk dan tersenyum padanya. Dia kembali memberikan pelangi terlabiknya yang begitu indah. Aku sangat terpesona pada ukiran yang dia buat.
Sepulang sekolah aku bergegas mencari ibu di dapur. Tidak ada. Aku mencari di ruang tv. Tidak ada. Aku mencari di kamar tidak ada. Tidak ada
"Bagaimana bisa kau tidak tahu ? Kau sekertasinya, semua data di kamu, kenapa kamu bisa seenaknya tidak tahu. Dengar ! Dengar ! Tolong hubungin pak Ikhsan untuk segera menghubungin saya. Ini lewat jadwal tempo. Bisa gawat kalau tidak diselesaikan. Baiklah, saya tunggu kabarnya. Baik, siang"
Tut ! Bunyi telepon sudah dimatiakan.
Aku hanya terdiam memperhatikan Ibu yang begitu sibuk mencari sesuatu di tasnya. Aku menunggu Ibu selesai dari kesibukannya. Aku tidak berani berbicara bila Ibu sedang kewalahan seperti ini. Beberapa detik kemudian Ibu memalingkan pandangannya ke arah ku. Lalu dia memberikan tatapana 'ada apa ?'. Aku menunduk, memainkan kuku jari tangan ku. Beliau menghampiri ku dan jonkok di depan ku. Dia mulai mengelus kepala ku.
"Ada apa, nak ? Bicara sama Ibu ?", tanyanya dengan nada menenangkan.
Wajah ku ditekukkan. Dengan mulut yang dimajukan, aku memandang iba kepada Ibu.
"Ada apa ? Kamu mau apa sayang ? Bicara sama Ibu", dia merangkul ku lalu membawa ku ke sofa di ruang tamu.
"Ibuuu. Marwa ingin dibawa bekal"
"Bekal ? Bukannya uang jajanmu sudah cukup untuk membeli makanan ?"
"Tapi Marwa ingin bekal"
"Kenapa tiba-tiba Marwa ingin bekal"
Aku menundukan kepala sambil memaindak dasi merah yang ku kenakan. "Marwa ingin bawa bekal seperti teman Marwa. Dia sering mebawa bekal buatan Ibunya. Enak sekali, bu, masakan buatan Ibunya"
"Wah. Teman Marwa yang mana, yah ?"
Aku mencoba mengingat. Aku tersadar, aku tidak tahu nama laki-laki itu. Aku sedikit kecewa. Bagaimana caranya aku akan bertemu dengan dia lagi bila aku tidak tahu namanya. Aku mengela nafas dalam.
"Marwa", panggil Ibu.
"Hmmm", jawab ku sambil memainkan dasi merah ku.
"Kenapa diam ? Siapa nama teman kamu itu ?"
Aku menggeleng, "enggak tahu"
"Loh, kok enggak tahu"
"Aku enggak tahu, bu"
"Memangnya kalian tidak berkenalan"
Aku menggeleng.
"Loh, kok kalian bisa berteman ?"
Aku menggeleng tidak tahu. Ibu merangkul ku dengan hangat, lalu mengelus rambut ku dengan manja.
"Kalau punya teman baru, ajak main ke rumah. Biar ibu tahu siapa saja temen dekat Marwa", Ibu tersenyum.
Aku mengangguk lalu tersenyum
°°°°°
Pagi hari.
"Ibuuuu.."
"Ibuu....", panggil ku sambil mencari keberadaan Ibu.
Aku mencari Ibu di kamarnya tidak ada. Mencari di ruang tv tidak ada. Senyum ke mulai merekah. "Ibu pasti di dapur sedang memasak", batin ku. Aku berlari ke dapur dengan semangat. Aroma masakan tercium lezat di hidung ku. Aku semakin bersemangat.
Brukkkkk!
"Aaawww", aku tersandung meja makan.
Seseorang berlari datang dari dapur, namun aku tidak melihatnya. Untuk aku yang masih seumuran anak SD sangat manja dan juga cengeng. Aku menangis berharap Ibu datang menolong ku. Seseorang merangkul ku dan menolong ku.
"Non, non Marwa enggak apa-apa ?", tanya bibi Noni kepada ku.
Tangisan ku semakin menjadi. Aku berharap Ibu yang datang menolong dan merangkul ku dengan hangat. Tapi mengapa bibi Noni yang menolong ku ? Tangisan ku semakin keras.
"Ibuuuuu. Ibu dimanaa ?", tanya ku dalam tangisan.
"Ibu sudah berangkat dari tadi, non. Ayo ikut sama bibi. Kita obatin lukanya", ajak bi Noni.
Aku menangis sejadi-jadinya. Rasa sakit di kaki ku tidak seberapa rasa kecewa ku terhadap Ibu. "Ibu pergi. Kenapa bukan Ibu yang memasakan bekal untuj ku"
Hari itu aku tidak pergi ke sekolah. Sangat ke kanak-kanakan. Aku berbaring di kamar ku. Aku lemamunkan sosok Nurfan yang dulu belum ku kenal namanya. Aku masih ingat betul lekukan senyum miliknya. Sangat meneduhkan hati.
Tidak sekolah pada saat itu membuat ku bosan. Rasanya ingin aku mengenakan seragam putih merah ku, lalu membawa tas dan bekal ku ke sekolah. Pada saat di sekolah, di situlah aku bisa bertemu dengan Nurfan.
Tiba-tiba saja aku memiliki ide. Aku melirik jam berbentuk kepala Rilakuma di kamar ku. Jam menunjukan pukul 09.35. Aku mengeluh sesaat. Namun aku memiliki ide tambahan.
Aku bergegas membawa boneka Rilakuma, Barnie, Stich, Mickey dan juga Minnie ke ruang tamu. Aku kewalahan membawa semua boneka ku yang berukuran balita.
"Sini, non. Biar bibi bantu", bi Noni membawakan boneka Mickey, Minnie, Stich, dan Barnie.
"Mau dibawa kemana, non ?"
Aku menuruni tangga dan berlari ke ruang tamu. "Bawa ke sink, bi!", ucap ku sambil berteriak.
"Ini dia. Non Marwa kenapa tiba-tiba bawa semua boneka non ke bawah ?", ucapnya.
Aku menggeleng sambil tersenyum sendiri. "Bi, tolong ambilkan makanan di kulkas"
"Siap, non !", bibi beranjak membawa makanan. Dan kembali membawa banyak makanan dari dapur.
"Ini dia ! Ohiya non, bibi tadi pagi masak bekal buat, non. Tapi kebetulan non enggak sekolah, bekalnya bibi simpan di lemari.
"Tolong ke sini saja, bi"
"Baiklah, non Marwa"
Aku tersenyum senang, lalu memalingkan pandangan ke arah luar jendel. Aku menunggu Nurfan pulang sekolah. "Aku akan bertemu di sini", batin ku.
Aku menunggu Nurfan di ruang tamu sambil bermain dengan boneka-boneka ku. Beberapa jam kemudian. Karena merasa bosan dan lelah, aku tidak sadar tertidur di sofa ruang tamu sampai jam 12.45.
Aku terbangun. Jiwa ini masih saja belum menyatu pada raganya. Tanpa sadar pandangan ku melihat ke arah luar jendela. Tiba-tiba saja aku tersadar. Seluruh jiwa ku kembali ke raganya. Dengan cepat aku melirik ke arah jam dinding di ruang tamu. Jam menunjukan pukul 12.50. Aku kecewa sekali pada saat itu. Rasanya ingin menangis. Semua yang ku tunggu itu sia-sia. Dan tidak ada satu pun orang yang tahu.
"Non, sini non. Ada anak nakal yang mau mencuri ikan di kolam rumah kita"
Aku segera melihat ke arah luar. Aku melihat dia. Aku melihat seseorang yang memiliki pelangi terbalik indah itu. Dia sedang duduk di depan gerbang rumah ku, bermain dengan ikan di rumah ku. Aku tertawa kecil. Dia membuang lidi yang dia gunakan untuk bermain dengan ikan, lalu berdiri. Dia menghela nafas melihat ke arah jendela di atas, jendela itu adalah jendel kamar ku. Dia berangjak pergi dengan wajahnya yang ditekukkan.
Aku segera membuat pintu, lalu berlari keluar.
"Non, non Marwa!! Jangan keluar, bahaya non!!!", teriak bibi Noni.
Aku mengabaikan teriakan Bibi. Aku melihat punggunya yang berjalan begitu loyo. Bibir ku kelu sekali saat itu. Malu dan bingung untuk memanggilnya. Aku tidak tahu nama dia. Aku tidak ingin kehilangan dia untuk saat ini. Aku membuka pintu gerbang yang besar itu. Dan berdiri memperhatikannya dengan cemas. Aku masih bingun dan takut memanggilnya. Mulut ku begitu kelu untuk sekedar berteriak 'Hei!'. Aku pun geram dengan diri sendiri. Dengan spontan aku berteriak keras.
"Aaaaaaaaa!!!!!!!!!"
Dia berhenti seketika. Perlahan dia membalikka badannya. Terlihat pelangi terbalik yang indah itu. Aku melihatnya lagi. Dia melambaikan tangannya. Sungguh mempesona. Dia berlari ke arah ku. Tiba-tiba saja jantung ku berdegup kencang, rasanya sesak. Rasanya ada yang memukulnya. Aku memegang dada ku. Tidak ada yang terluka. Dia semakin mendekat. Jantung ku semakin berdegup kencang. Aku tidak kuat. Seketika aku terjatuh di tempat.
"Marwa!", teriaknya, berlari lalu menolong ku.
Aku mendengar teriakannya tadi. Dia mencoba memopang ku ke dalam rumah. Dada ku seketika terasa hangat. Terasa ada yang membalutnya seperti selimbut yang hangat. Aku tidak mengerti apa yang aku rasakan. Pada saat itu aku masih duduk di bangku SD. Tidak mengerti soal perasaan yang aku rasakan. Lemah saat hal itu terjadi. Takut bila itu adalah suatu penyakit dalam. Benar-benar tidak mengerti. Namun berjalannya waktu aku tahu apa yang aku rasakan. Aku jatuh cinta untuk pertama kalinya
°°°°°°°°°°

Sabtu, 05 November 2016

Understanding


"Kau tau apa yang paling menyakitkan di dunia ini ?", tanya ku.
"Apa itu ?"
"Sesuatu yang sudah kau perjuangkan, namun perjuangan itu tidak ada harganya sama sekali"
"Oh, ya ?"
"Ya"
"Apa kamu merasa seperti itu ?"
"Sedikit"
"Kau yakin ?"
Aku hanya terdiam, menundukkan kepala sembari menahan air mata yang siap akan jatuh.
"Hei", membalikkan tubuh ku lalu mengangkat kepala ku sambil berkata, "kenapa kau menangis ?"
Aku tidak menjawab. Yang aku rasakan hanya perih di dada ini. Ia memeluk seketika dan mengelus rambut ku yang terurai rapih.
"Sudahlah. Apapun yang menyakiti, akan kita tutupi dengan hal-hal terindah yang akan kita lakukan"
Aku melepaskan pelukannya, lalu menatapnya. "Janji ?", tanya ku. Ia hanya mengangguk dengan senyumannya.
°°°°°°°°
Aku sibuk dengan tulisan dan tugas hari ini. Aku benar-benar tidak bisa diganggu. Orang yang bertanya pada ku pada saat itu juga aku abaikan. Teman kelompok ku memang menyebalkan, seluruh tugas kelompok ku selesaikan oleh ku seorang diri.
"Marwa! Marwa! Marwa!"
Aku mengabaikan seseorang yang memanggil nama ku dari kejauhan di luar kelas sana.
"Marwa!"
Tetap saja, aku masih terpaku pada tugas ku yang harus ku selesaikan sekarang juga. Difikiran ku saat ini hanya untuk menyelesaikan tugas, sebelum guru mata pelajaran Bahasa Indonesia datang.
"Marwa! Marwa!"
Kini suara itu seolah semakin mendekat. Aku mendengar langkah kaki menghampiri kelas ku. Beberapa teman ku menatap ku dengan tatapan heran.
Brakkkkkk!!
Aku sontak kaget mendengar sesuatu terhantam begitu saja ke tembok. Aku melihat ke arah sumber bunyi itu. Aku melihat sosok orang yang paling ku cintai sekaligus paling ku benci di dunia ini. Nurfan. Ia menghampiri ku dengan tatapan tajam ke arah ku. Aku menatapnya balik. Aku tau niat dia saat ini terhadap ku. Sebelum dia melakukannya, aku akan melakukannya terlebih dahulu. Aku berdiri dan berteriak padanya.
"Kaluar kamu!!", teriak ku sambil menunjuk ke arah pintu kelas.
Dia sempat terhenyak mendengar suara lantang ku memakinya. Namun dia tidak pantang menyerah. Dia menarik lengan ku dan menyeret ku keluar kelas.
Aku ditarik olehnya. Sungguh menjengkelkan. Aku mencoba menepiskan cengkramannya, namun tidak bisa. Aku terpogoh-pogoh mengikuti langkah kakinya yang lebar.
"Nurfan! Ada apa sih ?", tanya ku. Dia terdiam, sibuk membawa ku entah kemana. Sampai akhirnya kami berhenti di belakang kantin sekolah. Nafas ku terengah-engah. Dia menatap ku yang kelelahan. Aku mengatur nafas ku dan mulai bicara.
"Ada sih ? Ko tiba-tiba narik aku gitu aja", tanya ku.
Dia masih menatap ku yang kelelahan. Nafas ku sudah teratur, namun raga ini masih belum pulih. Aku memalingkan pandangan ku ke arah kantin. Aku sungguh kehausan. Rasanya tenggorokan ini akan terasa lega apabila ada sesuatu yang mengalir di dalamnya. Aku melihat bibi kantin menuangkan jus jambu ke dalam kemasan minuman.
"Jangan kemana-kemana", ucapnya.
Aku melirik ke arahnya. Lalu pergi menghiraukan ucapannya. Tangan ku di tarik olehnya. Aku mulai geram terhadapnya. Aku menepiskan tangannya dan mulai pergi kembali. Dia menarik tangan ku lagi. Kali ini aku berteriak.
"Ada apa sih ?!", tanya ku kepadanya.
Aku benar-benar ke hausan, tidak sempat melihat raut wajahnya yang begitu sedih. Aku meleos begitu saja. Kini dia mengejar ku dan menarik tangan ku lagi. Dia menarik tubuh ku, dan cupppp. Kami berciuman.
Sungguh perasaan ini tidak karuan. Bahagia, kaget, kesal, haus, lelah, sedih, semua bersatu. Aku merasakan air hangat mengalir di pipi ku dan pipi Nurfan. Ku buka mata ku. Aku melihat ia menangis. Aku melepaskan ciuman kami dengan perlahan. Aku menatap matanya. Penuh dengan seribu pertanyaan di dalamnya. Aku mencoba menghapus air matanya. Dia menahan tangan ku.
"Kenapa kau tidak jujur pada ku ?", tanya Nurfan.
Aku mengerutkan dahi. Tidak mengerti maksud dari pertanyaannya.
"Kenapa kau tidak jujur pada ku ?!", tanya Nurfan sedikit menaik intonasinya.
"Jujur soal apa ?", tanya ku.
"Jujur soal apa. Kamu masih bertanya jujur soal apa ?!", Nurfan mulai mencengkram pundak ku.
Aku memekik kesakitan. "Sekarang katakan apa yang kamu sembunyikan", ujarnya. Aku masih tidak mengerti. Aku mengerutkan dahi dan menggeleng tidak mengerti.
"'Aku akan pindah ke Amerika, fan. Aku akan tinggal di sana'. Coba katakan itu pada ku", jelasnya sambil mengguncangkan tubuh ku.
Aku seketika terdiam. Tidak mengatakan apapun. Nurfan tau rencana keluarga ku. Nurfan tau aku akan pindah. Nurfan tau aku akan tinggal di Amerika. Nurfan tau aku akan meninggalkannya. Dia tahu. Dia tahu.
"Ayo. Coba kamu katakan itu pada ku. Ayo", ucapnya memaksa.
"Marwa. Aku bicara baik-baik. Coba kamu katakan hal itu pada ku", ucapnya dengan intonasi menurun.
Aku menunduk. Tidak kuasa menatap matanya.
"Mar, aku cuma pengen denger kamu ngomong kaya gitu ke aku", ucapnya lagi memohon sambil menahan ke sedihan di dalam hatinya.
Mata ku mulai menitikan air mata. Rasanya sakit menerima kenyataan ini. Ini semua salah ku. Aku belum siap menghadapi ini semua. Namun takdir berkata lain. Aku harus menghadapi masalah ini.
"Maaf", ucap ku lirih.
Nurfan menatap ku dengan lekat. "Huh. Bukan itu yang ingin aku dengar. Aku pengen kamu bilang--"
"Cukup, fan. Kamu enggak ngerti. Maaf selama ini aku udah berbohong sama kamu"
Nurfan melepas cengkramannya. Dia melangkah mundur. Menyenderkan tubuhnya di tembok. Dia menatap kosong ke arah langit. Aku mencoba mendekatinya. Ku sandarkan juga tubuh ku di tembok. Aku mengehala nafas dalam-dalam.
Kriiiinnnngg! Kriiiiinngg!
Bel masuk berbunyi. Kami seharusnya masuk ke dalam kelas masing-masing. Namun kaki enggan meninggalkan tempat ini. Perasaan ini masih tidak karuan. Sesaat aku dibawa terbang ke langit, namun tiba-tiba dihempaskan bersamanya ke bumi. Kami berdua saling menyakiti. Kami terdiam. Tidak saling membuka pembicaraan. Kami hanya butuh menenangkan diri. Mengerti satu sama lain.
"Baiklah. Setidaknya masih ada waktu", dia beranjak dan tersenyum ke arah ku.
Aku menatapnya sedikit heran. "Hei. Bukannya kamu lagi ngerjain tugas Bahasa Indonesia ? Mata pelajaran pertama Bahada Indonesia kan ?"
Aku melipat tangan ku di bawah dada. "Kamu baru sadar apa yang kamu lakuin itu udah bikin kita bolos 1 jam pelajaran", ujar ku
Dia tertawa renyah. "Bolos sekali-kali enggak apa-apap, kan ?"
Aku mendelekkan mata. "Eh, bukannya kamu haus. Ayo aku tlaktir minum di kantin bibi"
"Wah, serius ?", tanya ku seketika sumringah mendengar kata tlaktir.
Dia mengangguk dan mengusap rambut ku. "Dengar kata tlaktir aja, mata hijau langsung"
Aku tersenyum jahil kepadanya. Aku dengan Nurfan bolos 1 jam pelajaran. Kami menikmati minuman dengan ditemani perbincangan hangat. Seolah pertengkaran kami pada saat itu terlupakan seketika. Semua hanya butuh waktu, butuh berfikir, dan menata hati yang kecewa.
°°°°°°°°°