Pagi hari yang
sangat gelap. Matahari pun belum memunculkan keindahannya saat itu. Hawa dingin
menusuk kulit kuning langsatnya Ira. “kenapa harus mandi jam segini sih ?”
“supaya gak
macet di jalan kali”
“tapi
gak usah jam 3 subuh juga kan”
“sudahlah.
Gak usah ngomel-ngomel mulu. Cepet pake baju, nanti dimarahin mamah loh” sambil
memberikan baju kepada Ira
Ira
hanya menurut dan langsung mengenakan pakaiannya. Ira turun dari kamarnya yang
ada di lantai atas ke ruang makan di lantai bawah. Terlihat Andra, kakaknya
Ira, sudah menunggu yang lain dimeja makan sambil memainkan PSPnya. Dan Liana
adiknya Ira, sedang asik dengan handpone barunya. Semuanya sibuk dengan
kesibukannya masing-masing.
“papah
sama mamah mana ?”
“masih
di kamar mungkin” jawab Andra tanpa melihat kedatangan Ira
Ira
duduk dikursi makan dengan setengah hati. Menunggu dan menunggu. Jenuh dan
membosankan yang Ira rasakan. Setengah jam berlalu. Papahnya Ira menghampiri
ruang makan. Andra dan Liana segera mematikan PSP dan handponenya. Kini semuanya
keluarga Ira telah kumplit.
“lama
banget sih pah”
“iya
maaf. Tadi kan papah ngangkat telepon wa Ibu dulu”
Beberapa
menit mamah keluar dari kamarnya. “emm udah pada kumpul yah. kita makan di
jalan aja yah. Sama bubur looh” sambil mengacungkan jarinya. “yess. Sama bubur”
gumam Andra
“ah
kalo gituh gak usah nunggu lama kaya tadi dah. Mending beli langsung aja
sendiri” kesal Ira sambil melipat tangan di depan dadanya
“kita
beli bubur bukan di tempat langganan kita. Di depan jembatan layang”
“wah
bagus-bagus tuh” ucap Andra menyetujui
“kalo
gituh. ayok berangkat”
Ira
beserta keluarganya berangkat menuju rumah neneknya. Rencananya, keluarga besar
Ira ingin mengadakan arisan keluarga di daerah villa milik kakak dari papahnya
Ira. Daerah itu masih sangat asri. Asap polusi, masih belum tersentuh ke daerah
itu. Hanya beberapa mobil truk dan satu atau dua bus sering melewati daerah
itu. Tranportasi masih minim, namun Uwa (kakak dari papah/mamah) memiliki 2
mobil dan 1 motor yang sering di pakai para tamu yang sering berkunjung ke
kebun teh milik uwanya.
Saat
di perjalanan yang belum begitu ramai namun terlihat aktivitas orang-orang
mulai berjalan ramai. Dan hawa dingin yang menyelimuti tubuh orang-orang di
daerah itu. Namun apa daya aktivitas mereka tidak bisa mereka tinggalkan begitu
saja. Ira melihat aktivitas mereka yang sibuk sendiri, tanpa ada yang sahut menyahut,
hanya sekedar butuhnya saja. Betapa egoisnya dunia ini. “gak ada interaksi sama
sekali” lirih Ira sedikit mencibir.
Beberapa
jam kemudian. Akhirnya mereka sampai di desa yang mereka tuju. Ira sangat
takjub dengan pemandangan yang ia lihat. Di kanan kiri mereka semua hijau,
asri, indah, amazing. “wow ! indah
sekali negri ini”. Dilihat jam tangan yang melekat di tangannya Ira “pukul 7 pagi.
Pantas saja dingin sekali jam segini, orang masih pagi begini” gumamnya. Ira
mengambil pakaian hangatnya dan langsung ia kenakan agar tubuh mungilnya tidak
kedinginan. “waaaaw keren banget pemandangannya. Gak salah deh uwa milih beli
villa di daerah yang begitu indah ini” kagum Liana.
“hah!
Paling orang-orang sini tidak bedanya dengan orang-orang yang di Jakarta” ucap
Ira
Tiba-tiba
saja Liana dan Andra melirik Ira dengan tatapan tajam. “kenapa ?” tanya Ira.
Liana dan Andra tidak merespon pertanyaan Ira, mereka kembali ke pemandangan
yang indah di sana.
Setelah sampai
di villa, mereka turun dari mobil. “tuh kan apa yang ku bilang. Tak ada
sambutan sama sekali. Orang sini tidak sama bedanya dengan orang Jakarta” ucap
Ira. Liana dan Andra tidak memperdulikan ucapan Ira tadi.
Saat keluarga
dan Ira memasuki villa uwanya. Sapaan yang hangat menyambut keluarga Ira. Ira
pun tak kalah hangat dari mereka. Mata Ira menyambut satu persatu yang
menyapanya, tiba-tiba tatapan Ira terhenti pada salah satu laki-laki yang duduk
sendiri disana. “siapa dia ? cuek sekali”. Laki-laki itu juga tak peduli dengan
tatapan Ira. Terlihat cuek dan arogan. Ira pun berhenti menatapa laki-laki itu.
Tiba-tiba saja ada yang menarik handponenya Ira. “eh !” sontak Ira. “liat hpnya
yah” ternyata yang menarik handponenya Ira itu soadaranya sendiri, kak Yasmien
“ya ampun ka Yasmien, gak usah main rebut juga kali minjemnya” canda Ira
“sorry” jawab Yasmien sambil mengedipkan matanya.
Beberapa
saat kemudian. Acara arisan pun berlangsung dengan ramai. Semuanya tegang
dengan hasil yang akan keluar dari gelas kocokan itu. Dan setelah yang keluar,
satu gulungan kertas yang berisi nama “Nias”. Semua bersorak kegirangan. Ada
juga yang bersorak menerima kekalahan. Semua ramai saat itu. Anak-anak lainnya
semua merayu uwa Nias agar arisan bulan selanjutnya di tempat yang asyik dan
ramai.
“jadi
dong waa, arisan selanjutnya di luar lagi. Tapi yang ramai”
“iya
waaa, jangan di rumah-rumah aja. Sekalian kita jalan-jalan” rayu beberapa anak
“mau
kalian tuh dimana ?” tanya uwa Nias
Anak-anak
serontak langsung menyarankan tempat yang ingin direncakanan. Di balik
keramaian itu. Ira yang tidak memperdulikan acara itu hanya terdiam. Kadang dia
ikut tertawa disaat yang lain tertawa, padahal tidak ada yang lucu sama sekali
menurut dia saat itu. Tatapan ira tiba-tiba berhenti kembali pada salah satu
laki-laki itu. Dia duduk sendiri di meja makan, dan sibuk dengan i-phonenya.
“kenapa ra ?” tanya kak Yasmien. Sepontan Ira kaget dan langsung menghentikan
tatapannya pada lelaki itu. “e, e..uum, enggak kak heheh” jawab Ira dengan
salah tingakah.
“aa
ah apa yang enggak. Orang kamu dari tadi ngeliatin dia” sambil menunjuk ke arah
laki-laki itu
Laki-laki
pun melihat apa yang terjadi diantara Ira dan kak Yasmien. Setelah itu dia
langsung pergi ke belakang rumah. “kok pergi sih” lirik Ira sedikit kecewa.
“tuh
kaaan. Kamu dari tadi merhatiin dia yaah”
“ih
kak Yasmien apaan sih. A-aku merhatiin dia karna sepertinya aku pernah
melihatnya disesuatu tempat. Itu saja kook”
“ooh
gituh” serpon kak Yasmien
Setelah
bercengkrama, bernyanyi-nyanyi mengisi acara. Tak terasa waktu tepat pada jam
12 siang. Uwa Dion mempersilahkan sodara-sodaranya untuk makan bersama.
“ayo-ayo waktunya makan. Makan sendiri yaah yang udah gede, kecuali yang masih
kecil” canda Uwa.
Ira
yang dari tadi dengan asyiknya menonton televisi, di kagetkan oleh suara tante
Adel. “Ira makan dulu sana”
“eh
tante ngagetin aja. Iya tante nanti Ira nyusul”
“nanti
keburu laper looo”
“emang
udah laper hihihih” Ira sambil lari ke arah dapur untuk mengambil seporsi
makanan
Saat
di dapur, laki-laki ini lagi membuat Ira begitu penasaran dengannya. Gayanya
yang begitu arogan, sikapnya yang dingin, tataan rambutnya sidikit keatas.
Siapakah dia ?, sepertinya Ira pernah melihatnya, tapi tidak seperti ini. Ira
mulai tidak memperdulikannya. Ira langsung mengambil piring dan beberapan
masakan. Saat dia ingin mengambil sendok, tiba-tiba tangan dia tersentuh dengan
seseorang. Dilihatnya oleh Ira, ternyata laki-laki itu. “what problem ?” batin
Ira. Sepontan laki-laki itu langsung melepaskan genggamannya. Ira memperhatikan
laki-laki itu cukup lama, laki-laki itu salang tingkah lalu pergi begitu saja.
“dasar manusia aneh” lirihnya
Semakin
malam semakin meriah acara itu. Keluarga Ira hampir semua menyukai seni musik.
Satu persatu semuanya menyumbangkan lagu untuk malam itu. “Ira sama Liana niih
yang belum nyanyiii” sorak uwa Andri.
“aduuuh
Ira mah lagi batuk waa. Jadi suaranya jelek. Liana aja ya wa”
“ya
sudah. Liana nyanyi yaah” ajak Uwa Andri
Ira
diam-diam pergi ke belakang rumah. Ira tidak lupa dengan baju hangatnya, diluar
sana sangat dingin untuk tubuh mungilnya. Ada taman kecil di belakang rumah uwa
Dion. Ira berjalan perlahan sambil melihat ke indahan yang ada di sana. Taburan
bintang yang menghiasi malam, bulan purnama yang menyinari pedesaan itu,
terlihat sekali kebun teh yang menjajar rapih disana.
“rasanya
ingin sekali berlari-lari kecil di sana” gumam Ira
“kau
takkan bisa”. Serontak Ira kaget dan mencari siapa yang seenaknya berbicara
seperti itu. Tatapan Ira menyipit tajam pada salah seorang laki-laki itu.
Laki-laki itu menoleh ke arahnya dan memberikan senyuman. Ira mentapnya heran.
“kemarilah” ajak laki-laki itu. Ira menghampiri laki-laki itu dan duduk di
sebelahnya. Cukup lama mereka berdiam tanpa saling bertanya. Memang hidup itu
egois.
“kenapa
kamu bisa berkata seperti itu ?” Ira mulai memudarkan keheningan
“berkata
apa ?”
“ituu,
tentang kalo aku tidak akan bisa bermain di sana”
Laki-laki
itu tersenyum kecil. Lalu ia menunjuk ke arah kebun teh itu. “coba lihat disana”
Ira menengok ke arah kebun teh. “di belakang kebun teh itu. Ada jurang yang
begitu dalam di sana”
“lalu
?”
“kau
tak akan bisa bebas berlari kecil di daerah itu”
“kata
siapa. Aku bisa berlari searah dengan jalanan”
“searah
dengan jalanan tidak akan membuat kita puas untuk berlari”
Ira
berdiri sambil melihat kebun teh itu. “lagi pula aku tidak akan terus berlari sampai
ujung itu”
“jadi
kau akan berlari di daerah itu saja ?”
Ira
duduk kembali di samping laki-laki itu “yup”
“kau
mudah puas”
“lalu
? apa masalahmu ?”
Laki-laki
itu menoleh ke arah Ira. Dan menatap tajam ke arahnya, mendekati wajahnya ke
wajah Ira “rasa puas adalah musuh terbesarku”. Ira terbelalak melihat wajah
laki-laki itu. Tatapan laki-laki itu kembali ke arah kebun teh. “oh begitu” respon
Ira. Ira masih terheran dengan kebun teh di sana. Mengapa ada jurang di
belakang kebun teh itu.
“kau
ingin bermain ?” tanya laki-laki itu
Ira
menatapnya sambil menganggukan kepalanya. “besok pagi akan ku ajak kau ke
tempat yang indah. Tapi bukan di daerah ini dan di sana juga bebas dari jurang”
“wah
serius ?”
“apa
tatapanku ini tatapan candaan”
“waaah
asyiik” girang Ira
Laki-laki
itu melihat wajah girangnya Ira, lalu dia tersenyum. “hahah dasar setan kecil”
lirih laki-laki itu. Mendengar perkataan itu, Ira menoleh ke arah laki-laki
itu. Laki-laki itu buang muka, salah tingkah, dan mati gaya. Karna takut ketahuan,
laki-laki itu pergi dari tempat itu meninggalkan Ira.
“setan
kecil. . . bukannya itu sebutan nakal waktu aku kecil” sambil menoleh ke arah
perginya laki-laki itu
#
# #
Ke
esokan harinya. Ira sudah menunggu di depan pintu motel laki-laki itu. Saat
laki-laki itu keluar dari motelnya “hey !” sapa Ira. Laki-laki itu kaget akan
kedatangannya. “sedang apa kau di sini ?”
“aku
menunggumu”
“untuk
apa ?”
“kau
lupa yah. Kau kan sudah berjanji padaku untuk mengajakku bermain ke tempat yang
indah”
“oh
begitu. Kemarilah” laki-laki itu mengajak Ira menunggu di dalam motelnya “kau
tunggu saja di sini. Aku ingin mandi dulu”
“eh
jangan lama-lama yah. Nanti udara pagi keburu abis”
Laki-laki
itu mengangguk dan berlalu meninggalkan Ira di ruang tamu. Beberapa menit
kemudian. Laki-laki itu keluar dari kamarnya. “rapi sekali. Kaya yang ingin
pergi kencan saja” heran Ira
Laki-laki
itu salah tingkah “ah ! memangnya salah kalau aku memakai pakaian ini ? tidak
kan” sambil pergi keluar tanpa menghiraukan Ira.
“hey
tunggu aku dong”
Saat
mereka di halaman motel “karena di sini kendaraan sangat minim. Jadi kita pakai
sepeda saja “
Ira
yang dari tadi hanya menengak nengok ke daerah itu sambil mencari sesuatu
membuat laki-laki itu terheran “ada apa ?”
“sepedanya
cuma satu ?”
“memangnya
kenapa ?”
“nanti
aku ke sana pakai apa ?”
“ya
ampun. Kau akan ku bonceng Iraaa” dengan gemasnya laki-laki itu mengepal
tanganya ke arah wajah Ira
Akhirnya
mereka berangkat ke tempat yang mereka tuju. Saat di perjalanan, Ira hanya
memandang pemandangan yang ada di sana. Terkadang ia menjulurkan kedua tangannya ke samping seraya menghirupkan
udara pagi yang segar. Laki-laki itu yang dari tadi merasakan kegirangannya
Ira, tersenyum kecil. “eh, aku belum tau loh nama kamu siapa” tanya Ira.
Laki-laki itu terbangun dari lamunannya. Kebetulan laki-laki itu sedang memakai
earphone jadi dia berpura-pura sedang
mendengarkan lagu, padahal earphone itu
tidak tersambung dengan handponennya.
Ira yang hanya tau laki-laki itu sedang asyik mendengarkan lagu, hanya terdiam
dan memaklumkannya.
Setelah
beberapa menit di perjalanan. Akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.
“waaaahh. Keren banget” kagum Ira.
“apa
ku bilang. Di sini itu tempat indah sekali, kalau kata orang. Surganya dunia”
spontan sambil merangkul pundak Ira. Saat Ira tahu dirinya dirangkul oleh
laki-laki itu, laki-laki itu langsung melepaskan rangkulannya. “ehm, eeeuuh,
kita jalan kesana yuk” tanpa memerdulikan Ira begitu saja
Ira
mengikutinnya dari belakang. “kita mau kemana ?” tanya Ira.
“ikuti
saja aku”. Setelah sampai di tempat yang tepat. “gak seru kan kalo cuma
liat-liat aja di sini. Gimana kalo balap lari dari sini sampai ujung sana ?”
sambil menunjukan ujung kebun teh itu.
“gila
! jauh amat !”
“ah
katanya mau berlari di kebun teh sepuas mungkin”
“aku
bilangkan berlari kecil. Bukan lari maraton”
“tenaaaang
jogging kok larinya”
Ira
berfikir sejenak sambil memerhatikan sekitar. Sambil menjentikan jari “okeh”
“startnya
dari sini”
Ira
mengangguk. “sudah siap ?” Ira mengangguk dengan siap “mulai!” Ira berlari
secepatnya. Sedangkan laki-laki itu diam dan tersenyum sambil memperhatikan Ira
yang terbirit-birit berlari. “katanya bakal berlari-lari kecil. Taunya bakal
sprin juga” sambil kembali ke tempat diparkirnya sepeda, laki-laki itu menyusul
Ira dengan sepedanya.
Ira
istirahat sejenak sambil mengambil nafas dalam-dalam “hahah ternyata laki-laki
itu seperti kura-kura. Laki-laki tapi fisik nol”. Saat istirahat beberapa
menit. Ira melihat dari kejauhan orang yang sedikit ia kenal membawa sepeda
menghampiri Ira. Ternyata laki-laki itu. “payah” lirih Ira
“keren.
Bisa sampai sini juga kamu”
“hey
! kok kamu pakai sepeda sih balapnya ?!”
“memangnya
kenapa ?”
“payah
kamu ! laki-laki tapi nyali, fisik, nol !”
“hey
! kalo aku lari dari sana sampai ujung kebun teh sana. Bagiku itu kecil !”
“lalu
kenapa kau pakai sepeda ?” sambil mendorong sepeda itu
“memangnya
balapan ini untuk siapa ? untuk kamu kan”
“kok
gitu ? perasaan instruksinya tidak seperti itu”
“aku
bicara tidak ada kata ‘kita’ kan ?”
Ira
berfikir sejenak. Merasa sudah dikerjai, Ira duduk di belakang jok sepeda itu.
Tau apa keinginan wanita itu. Laki-laki itu segera mengantarkan Ira ke tempat
yang sedikit tinggi. “tunggu di sini” kata laki-laki itu. Beberapa menit
menunggu, laki-laki itu kembali lagi dengan membawa dua ice cream. “nih” sambil
memberikan 1 buah ice cream untuk Ira
“ice
cream ? aku butuhnya air minum, bukan ice cream”
“kagak
ada Ira. Udah deh ambil aja. Itung-itung, itu ice cream tanda maaf aku udah
ngerjain kamu”
“ternyata
kamu… eeerrrgghh” sambil mencubit bahu laki-laki itu
“aw
! sakit dong ra”
“biarin.
Biar kamu tau gimana capeknya aku lari dari sana sampe ujung kebun sana”
“hahah”
“ketawa
lagi”
Laki-laki
itu terus memerhatikan Ira yang sedang lahapnya memakan ice cream yang baru
saja dia beli. Terlihat ada sedikit noda di pipi Ira. Tahu akan hal itu,
laki-laki itu langsung saja membersihkan pipi cantiknya Ira. “eh” kaget Ira.
Sambil tersenyum, laki-laki itu mengusap pipi Ira dengan lembut “kamu cantik”.
Wajah Ira tiba-tiba memerah. Laki-laki itu sadar bahwa wajah Ira memerah karna
dia malu. Tiba-tiba pipi Ira dicubitnya dengan gemas “iiiihh kamu imut banget
sih Ira”.
Ira
yang menjerit ke sakitan, memukul-mukul tubuh laki-laki itu agar jarinya
terlepas dari pipinya. “sakiiiittt !. Tega banget sih kamu”
“habis
aku gemas sama kamu”
“tapi
gak gini juga kali”
“sorry”
sambil tersenyum nakal
Beberapa
menit kemudian. Mereka saling terdiam. Ira yang baru saja menghabiskan ice
creamnya memukul pundak laki-laki itu. “eh ngomong-ngomong. Aku belum tau loh
nama kamu siapa ?”. Laki-laki itu langsung terdiam. “kamu pengen tau banget ?”
“iyah”
“mau
tau banget atau mau tau aja ?”
“eeemm
dua-duanya sih”
Laki-laki
itu terdiam sejenak sambil menghabiskan ice creamnya. “oh iya bagaimana dengan
kabar tim basket Banu ?”
“tim
basket Banu ? apa hubungannya sama nama kamu ?”
Laki-laki itu mendekati wajah Ira, spontan wajah Ira
mengekspresikan bingung. “kau ingat
dengan final basket O2SN antara sekolah Antariksa dan sekolah Mardiyuana?”
laki-laki itu mencoba mengingatkan sesuatu. Ira tentu saja ingat betul tentang
pertandingan olahraga elit tersebut. Ira pun mengangguk menandakan bahwa ia
mengingat akhir pertandingan tersebut. “perkenalkan . . aku Lintang dari tim
basket Antariksa” sambil mengulurkan tangannya. Ira seperti baru saja bertemu
dengan sosok artis terkenal yang ia idolakan. Ira terkejut dan terdiam. Ira
tidak menyangka bahwa sodaranya ini adalah anak tim basket yang terkenal wajah
yang tampan, skill dalam bermain yang hebat, dan yang paling mencengangkan dia
banyak penggemar di sekolah Ira.