Jumat, 07 Agustus 2015

I'm Lintang

Pagi hari yang sangat gelap. Matahari pun belum memunculkan keindahannya saat itu. Hawa dingin menusuk kulit kuning langsatnya Ira. “kenapa harus mandi jam segini sih ?”
“supaya gak macet di jalan kali”
            “tapi gak usah jam 3 subuh juga kan”
            “sudahlah. Gak usah ngomel-ngomel mulu. Cepet pake baju, nanti dimarahin mamah loh” sambil memberikan baju kepada Ira
            Ira hanya menurut dan langsung mengenakan pakaiannya. Ira turun dari kamarnya yang ada di lantai atas ke ruang makan di lantai bawah. Terlihat Andra, kakaknya Ira, sudah menunggu yang lain dimeja makan sambil memainkan PSPnya. Dan Liana adiknya Ira, sedang asik dengan handpone barunya. Semuanya sibuk dengan kesibukannya masing-masing.
            “papah sama mamah mana ?”
            “masih di kamar mungkin” jawab Andra tanpa melihat kedatangan Ira
            Ira duduk dikursi makan dengan setengah hati. Menunggu dan menunggu. Jenuh dan membosankan yang Ira rasakan. Setengah jam berlalu. Papahnya Ira menghampiri ruang makan. Andra dan Liana segera mematikan PSP dan handponenya. Kini semuanya keluarga Ira telah kumplit.
            “lama banget sih pah”
            “iya maaf. Tadi kan papah ngangkat telepon wa Ibu dulu”
            Beberapa menit mamah keluar dari kamarnya. “emm udah pada kumpul yah. kita makan di jalan aja yah. Sama bubur looh” sambil mengacungkan jarinya. “yess. Sama bubur” gumam Andra
            “ah kalo gituh gak usah nunggu lama kaya tadi dah. Mending beli langsung aja sendiri” kesal Ira sambil melipat tangan di depan dadanya
            “kita beli bubur bukan di tempat langganan kita. Di depan jembatan layang”
            “wah bagus-bagus tuh” ucap Andra menyetujui
            “kalo gituh. ayok berangkat”
            Ira beserta keluarganya berangkat menuju rumah neneknya. Rencananya, keluarga besar Ira ingin mengadakan arisan keluarga di daerah villa milik kakak dari papahnya Ira. Daerah itu masih sangat asri. Asap polusi, masih belum tersentuh ke daerah itu. Hanya beberapa mobil truk dan satu atau dua bus sering melewati daerah itu. Tranportasi masih minim, namun Uwa (kakak dari papah/mamah) memiliki 2 mobil dan 1 motor yang sering di pakai para tamu yang sering berkunjung ke kebun teh milik uwanya.
            Saat di perjalanan yang belum begitu ramai namun terlihat aktivitas orang-orang mulai berjalan ramai. Dan hawa dingin yang menyelimuti tubuh orang-orang di daerah itu. Namun apa daya aktivitas mereka tidak bisa mereka tinggalkan begitu saja. Ira melihat aktivitas mereka yang sibuk sendiri, tanpa ada yang sahut menyahut, hanya sekedar butuhnya saja. Betapa egoisnya dunia ini. “gak ada interaksi sama sekali” lirih Ira sedikit mencibir.
            Beberapa jam kemudian. Akhirnya mereka sampai di desa yang mereka tuju. Ira sangat takjub dengan pemandangan yang ia lihat. Di kanan kiri mereka semua hijau, asri, indah, amazing. “wow ! indah sekali negri ini”. Dilihat jam tangan yang melekat di tangannya Ira “pukul 7 pagi. Pantas saja dingin sekali jam segini, orang masih pagi begini” gumamnya. Ira mengambil pakaian hangatnya dan langsung ia kenakan agar tubuh mungilnya tidak kedinginan. “waaaaw keren banget pemandangannya. Gak salah deh uwa milih beli villa di daerah yang begitu indah ini” kagum Liana.
            “hah! Paling orang-orang sini tidak bedanya dengan orang-orang yang di Jakarta” ucap Ira
            Tiba-tiba saja Liana dan Andra melirik Ira dengan tatapan tajam. “kenapa ?” tanya Ira. Liana dan Andra tidak merespon pertanyaan Ira, mereka kembali ke pemandangan yang indah di sana.
Setelah sampai di villa, mereka turun dari mobil. “tuh kan apa yang ku bilang. Tak ada sambutan sama sekali. Orang sini tidak sama bedanya dengan orang Jakarta” ucap Ira. Liana dan Andra tidak memperdulikan ucapan Ira tadi.
Saat keluarga dan Ira memasuki villa uwanya. Sapaan yang hangat menyambut keluarga Ira. Ira pun tak kalah hangat dari mereka. Mata Ira menyambut satu persatu yang menyapanya, tiba-tiba tatapan Ira terhenti pada salah satu laki-laki yang duduk sendiri disana. “siapa dia ? cuek sekali”. Laki-laki itu juga tak peduli dengan tatapan Ira. Terlihat cuek dan arogan. Ira pun berhenti menatapa laki-laki itu. Tiba-tiba saja ada yang menarik handponenya Ira. “eh !” sontak Ira. “liat hpnya yah” ternyata yang menarik handponenya Ira itu soadaranya sendiri, kak Yasmien “ya ampun ka Yasmien, gak usah main rebut juga kali minjemnya” canda Ira “sorry” jawab Yasmien sambil mengedipkan matanya.
            Beberapa saat kemudian. Acara arisan pun berlangsung dengan ramai. Semuanya tegang dengan hasil yang akan keluar dari gelas kocokan itu. Dan setelah yang keluar, satu gulungan kertas yang berisi nama “Nias”. Semua bersorak kegirangan. Ada juga yang bersorak menerima kekalahan. Semua ramai saat itu. Anak-anak lainnya semua merayu uwa Nias agar arisan bulan selanjutnya di tempat yang asyik dan ramai.
            “jadi dong waa, arisan selanjutnya di luar lagi. Tapi yang ramai”
            “iya waaa, jangan di rumah-rumah aja. Sekalian kita jalan-jalan” rayu beberapa anak
            “mau kalian tuh dimana ?” tanya uwa Nias
            Anak-anak serontak langsung menyarankan tempat yang ingin direncakanan. Di balik keramaian itu. Ira yang tidak memperdulikan acara itu hanya terdiam. Kadang dia ikut tertawa disaat yang lain tertawa, padahal tidak ada yang lucu sama sekali menurut dia saat itu. Tatapan ira tiba-tiba berhenti kembali pada salah satu laki-laki itu. Dia duduk sendiri di meja makan, dan sibuk dengan i-phonenya. “kenapa ra ?” tanya kak Yasmien. Sepontan Ira kaget dan langsung menghentikan tatapannya pada lelaki itu. “e, e..uum, enggak kak heheh” jawab Ira dengan salah tingakah.
            “aa ah apa yang enggak. Orang kamu dari tadi ngeliatin dia” sambil menunjuk ke arah laki-laki itu
            Laki-laki pun melihat apa yang terjadi diantara Ira dan kak Yasmien. Setelah itu dia langsung pergi ke belakang rumah. “kok pergi sih” lirik Ira sedikit kecewa.
            “tuh kaaan. Kamu dari tadi merhatiin dia yaah”
            “ih kak Yasmien apaan sih. A-aku merhatiin dia karna sepertinya aku pernah melihatnya disesuatu tempat. Itu saja kook”
            “ooh gituh” serpon kak Yasmien
            Setelah bercengkrama, bernyanyi-nyanyi mengisi acara. Tak terasa waktu tepat pada jam 12 siang. Uwa Dion mempersilahkan sodara-sodaranya untuk makan bersama. “ayo-ayo waktunya makan. Makan sendiri yaah yang udah gede, kecuali yang masih kecil” canda Uwa.
            Ira yang dari tadi dengan asyiknya menonton televisi, di kagetkan oleh suara tante Adel. “Ira makan dulu sana”
            “eh tante ngagetin aja. Iya tante nanti Ira nyusul”
            “nanti keburu laper looo”
            “emang udah laper hihihih” Ira sambil lari ke arah dapur untuk mengambil seporsi makanan
            Saat di dapur, laki-laki ini lagi membuat Ira begitu penasaran dengannya. Gayanya yang begitu arogan, sikapnya yang dingin, tataan rambutnya sidikit keatas. Siapakah dia ?, sepertinya Ira pernah melihatnya, tapi tidak seperti ini. Ira mulai tidak memperdulikannya. Ira langsung mengambil piring dan beberapan masakan. Saat dia ingin mengambil sendok, tiba-tiba tangan dia tersentuh dengan seseorang. Dilihatnya oleh Ira, ternyata laki-laki itu. “what problem ?” batin Ira. Sepontan laki-laki itu langsung melepaskan genggamannya. Ira memperhatikan laki-laki itu cukup lama, laki-laki itu salang tingkah lalu pergi begitu saja. “dasar manusia aneh” lirihnya
            Semakin malam semakin meriah acara itu. Keluarga Ira hampir semua menyukai seni musik. Satu persatu semuanya menyumbangkan lagu untuk malam itu. “Ira sama Liana niih yang belum nyanyiii” sorak uwa Andri.
            “aduuuh Ira mah lagi batuk waa. Jadi suaranya jelek. Liana aja ya wa”
            “ya sudah. Liana nyanyi yaah” ajak Uwa Andri
            Ira diam-diam pergi ke belakang rumah. Ira tidak lupa dengan baju hangatnya, diluar sana sangat dingin untuk tubuh mungilnya. Ada taman kecil di belakang rumah uwa Dion. Ira berjalan perlahan sambil melihat ke indahan yang ada di sana. Taburan bintang yang menghiasi malam, bulan purnama yang menyinari pedesaan itu, terlihat sekali kebun teh yang menjajar rapih disana.
            “rasanya ingin sekali berlari-lari kecil di sana” gumam Ira
            “kau takkan bisa”. Serontak Ira kaget dan mencari siapa yang seenaknya berbicara seperti itu. Tatapan Ira menyipit tajam pada salah seorang laki-laki itu. Laki-laki itu menoleh ke arahnya dan memberikan senyuman. Ira mentapnya heran. “kemarilah” ajak laki-laki itu. Ira menghampiri laki-laki itu dan duduk di sebelahnya. Cukup lama mereka berdiam tanpa saling bertanya. Memang hidup itu egois.
            “kenapa kamu bisa berkata seperti itu ?” Ira mulai memudarkan keheningan
            “berkata apa ?”
            “ituu, tentang kalo aku tidak akan bisa bermain di sana”      
            Laki-laki itu tersenyum kecil. Lalu ia menunjuk ke arah kebun teh itu. “coba lihat disana” Ira menengok ke arah kebun teh. “di belakang kebun teh itu. Ada jurang yang begitu dalam di sana”
            “lalu ?”
            “kau tak akan bisa bebas berlari kecil di daerah itu”
            “kata siapa. Aku bisa berlari searah dengan jalanan”
            “searah dengan jalanan tidak akan membuat kita puas untuk berlari”
            Ira berdiri sambil melihat kebun teh itu. “lagi pula aku tidak akan terus berlari sampai ujung itu”
            “jadi kau akan berlari di daerah itu saja ?”
            Ira duduk kembali di samping laki-laki itu “yup”
            “kau mudah puas”
            “lalu ? apa masalahmu ?”
            Laki-laki itu menoleh ke arah Ira. Dan menatap tajam ke arahnya, mendekati wajahnya ke wajah Ira “rasa puas adalah musuh terbesarku”. Ira terbelalak melihat wajah laki-laki itu. Tatapan laki-laki itu kembali ke arah kebun teh. “oh begitu” respon Ira. Ira masih terheran dengan kebun teh di sana. Mengapa ada jurang di belakang kebun teh itu.
            “kau ingin bermain ?” tanya laki-laki itu
            Ira menatapnya sambil menganggukan kepalanya. “besok pagi akan ku ajak kau ke tempat yang indah. Tapi bukan di daerah ini dan di sana juga bebas dari jurang”
            “wah serius ?”
            “apa tatapanku ini tatapan candaan”
            “waaah asyiik” girang Ira
            Laki-laki itu melihat wajah girangnya Ira, lalu dia tersenyum. “hahah dasar setan kecil” lirih laki-laki itu. Mendengar perkataan itu, Ira menoleh ke arah laki-laki itu. Laki-laki itu buang muka, salah tingkah, dan mati gaya. Karna takut ketahuan, laki-laki itu pergi dari tempat itu meninggalkan Ira.
            “setan kecil. . . bukannya itu sebutan nakal waktu aku kecil” sambil menoleh ke arah perginya laki-laki itu
# # #
            Ke esokan harinya. Ira sudah menunggu di depan pintu motel laki-laki itu. Saat laki-laki itu keluar dari motelnya “hey !” sapa Ira. Laki-laki itu kaget akan kedatangannya. “sedang apa kau di sini ?”
            “aku menunggumu”
            “untuk apa ?”
            “kau lupa yah. Kau kan sudah berjanji padaku untuk mengajakku bermain ke tempat yang indah”
            “oh begitu. Kemarilah” laki-laki itu mengajak Ira menunggu di dalam motelnya “kau tunggu saja di sini. Aku ingin mandi dulu”
            “eh jangan lama-lama yah. Nanti udara pagi keburu abis”
            Laki-laki itu mengangguk dan berlalu meninggalkan Ira di ruang tamu. Beberapa menit kemudian. Laki-laki itu keluar dari kamarnya. “rapi sekali. Kaya yang ingin pergi kencan saja” heran Ira
            Laki-laki itu salah tingkah “ah ! memangnya salah kalau aku memakai pakaian ini ? tidak kan” sambil pergi keluar tanpa menghiraukan Ira.
            “hey tunggu aku dong”
            Saat mereka di halaman motel “karena di sini kendaraan sangat minim. Jadi kita pakai sepeda saja “
            Ira yang dari tadi hanya menengak nengok ke daerah itu sambil mencari sesuatu membuat laki-laki itu terheran “ada apa ?”
            “sepedanya cuma satu ?”
            “memangnya kenapa ?”
            “nanti aku ke sana pakai apa ?”
            “ya ampun. Kau akan ku bonceng Iraaa” dengan gemasnya laki-laki itu mengepal tanganya ke arah wajah Ira
            Akhirnya mereka berangkat ke tempat yang mereka tuju. Saat di perjalanan, Ira hanya memandang pemandangan yang ada di sana. Terkadang ia menjulurkan kedua  tangannya ke samping seraya menghirupkan udara pagi yang segar. Laki-laki itu yang dari tadi merasakan kegirangannya Ira, tersenyum kecil. “eh, aku belum tau loh nama kamu siapa” tanya Ira. Laki-laki itu terbangun dari lamunannya. Kebetulan laki-laki itu sedang memakai earphone jadi dia berpura-pura sedang mendengarkan lagu, padahal earphone itu tidak tersambung dengan handponennya. Ira yang hanya tau laki-laki itu sedang asyik mendengarkan lagu, hanya terdiam dan memaklumkannya.
            Setelah beberapa menit di perjalanan. Akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. “waaaahh. Keren banget” kagum Ira.
            “apa ku bilang. Di sini itu tempat indah sekali, kalau kata orang. Surganya dunia” spontan sambil merangkul pundak Ira. Saat Ira tahu dirinya dirangkul oleh laki-laki itu, laki-laki itu langsung melepaskan rangkulannya. “ehm, eeeuuh, kita jalan kesana yuk” tanpa memerdulikan Ira begitu saja
            Ira mengikutinnya dari belakang. “kita mau kemana ?” tanya Ira.
            “ikuti saja aku”. Setelah sampai di tempat yang tepat. “gak seru kan kalo cuma liat-liat aja di sini. Gimana kalo balap lari dari sini sampai ujung sana ?” sambil menunjukan ujung kebun teh itu.
            “gila ! jauh amat !”
            “ah katanya mau berlari di kebun teh sepuas mungkin”
            “aku bilangkan berlari kecil. Bukan lari maraton”
            “tenaaaang jogging kok larinya”
            Ira berfikir sejenak sambil memerhatikan sekitar. Sambil menjentikan jari “okeh”
            “startnya dari sini”
            Ira mengangguk. “sudah siap ?” Ira mengangguk dengan siap “mulai!” Ira berlari secepatnya. Sedangkan laki-laki itu diam dan tersenyum sambil memperhatikan Ira yang terbirit-birit berlari. “katanya bakal berlari-lari kecil. Taunya bakal sprin juga” sambil kembali ke tempat diparkirnya sepeda, laki-laki itu menyusul Ira dengan sepedanya.
            Ira istirahat sejenak sambil mengambil nafas dalam-dalam “hahah ternyata laki-laki itu seperti kura-kura. Laki-laki tapi fisik nol”. Saat istirahat beberapa menit. Ira melihat dari kejauhan orang yang sedikit ia kenal membawa sepeda menghampiri Ira. Ternyata laki-laki itu. “payah” lirih Ira
            “keren. Bisa sampai sini juga kamu”
            “hey ! kok kamu pakai sepeda sih balapnya ?!”
            “memangnya kenapa ?”
            “payah kamu ! laki-laki tapi nyali, fisik, nol !”
            “hey ! kalo aku lari dari sana sampai ujung kebun teh sana. Bagiku itu kecil !”
            “lalu kenapa kau pakai sepeda ?” sambil mendorong sepeda itu
            “memangnya balapan ini untuk siapa ? untuk kamu kan”
            “kok gitu ? perasaan instruksinya tidak seperti itu”
            “aku bicara tidak ada kata ‘kita’ kan ?”
            Ira berfikir sejenak. Merasa sudah dikerjai, Ira duduk di belakang jok sepeda itu. Tau apa keinginan wanita itu. Laki-laki itu segera mengantarkan Ira ke tempat yang sedikit tinggi. “tunggu di sini” kata laki-laki itu. Beberapa menit menunggu, laki-laki itu kembali lagi dengan membawa dua ice cream. “nih” sambil memberikan 1 buah ice cream untuk Ira
            “ice cream ? aku butuhnya air minum, bukan ice cream”
            “kagak ada Ira. Udah deh ambil aja. Itung-itung, itu ice cream tanda maaf aku udah ngerjain kamu”
            “ternyata kamu… eeerrrgghh” sambil mencubit bahu laki-laki itu
            “aw ! sakit dong ra”
            “biarin. Biar kamu tau gimana capeknya aku lari dari sana sampe ujung kebun sana”
            “hahah”
            “ketawa lagi”
            Laki-laki itu terus memerhatikan Ira yang sedang lahapnya memakan ice cream yang baru saja dia beli. Terlihat ada sedikit noda di pipi Ira. Tahu akan hal itu, laki-laki itu langsung saja membersihkan pipi cantiknya Ira. “eh” kaget Ira. Sambil tersenyum, laki-laki itu mengusap pipi Ira dengan lembut “kamu cantik”. Wajah Ira tiba-tiba memerah. Laki-laki itu sadar bahwa wajah Ira memerah karna dia malu. Tiba-tiba pipi Ira dicubitnya dengan gemas “iiiihh kamu imut banget sih Ira”.
            Ira yang menjerit ke sakitan, memukul-mukul tubuh laki-laki itu agar jarinya terlepas dari pipinya. “sakiiiittt !. Tega banget sih kamu”
            “habis aku gemas sama kamu”
            “tapi gak gini juga kali”
            “sorry” sambil tersenyum nakal
            Beberapa menit kemudian. Mereka saling terdiam. Ira yang baru saja menghabiskan ice creamnya memukul pundak laki-laki itu. “eh ngomong-ngomong. Aku belum tau loh nama kamu siapa ?”. Laki-laki itu langsung terdiam. “kamu pengen tau banget ?”
            “iyah”
            “mau tau banget atau mau tau aja ?”
            “eeemm dua-duanya sih”
            Laki-laki itu terdiam sejenak sambil menghabiskan ice creamnya. “oh iya bagaimana dengan kabar tim basket Banu ?”
            “tim basket Banu ? apa hubungannya sama nama kamu ?”
            Laki-laki itu mendekati wajah Ira, spontan wajah Ira mengekspresikan bingung.  “kau ingat dengan final basket O2SN antara sekolah Antariksa dan sekolah Mardiyuana?” laki-laki itu mencoba mengingatkan sesuatu. Ira tentu saja ingat betul tentang pertandingan olahraga elit tersebut. Ira pun mengangguk menandakan bahwa ia mengingat akhir pertandingan tersebut. “perkenalkan . . aku Lintang dari tim basket Antariksa” sambil mengulurkan tangannya. Ira seperti baru saja bertemu dengan sosok artis terkenal yang ia idolakan. Ira terkejut dan terdiam. Ira tidak menyangka bahwa sodaranya ini adalah anak tim basket yang terkenal wajah yang tampan, skill dalam bermain yang hebat, dan yang paling mencengangkan dia banyak penggemar di sekolah Ira.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar