Aku tersadar. Mata ku masih meraba. Aku melihat langit-langit di kamar ku. Aku memalingkan kepala, melihat seseorang yang berada di bawah tempat tidur ku. Dia yang sedang berkutat dengan buku-buku yang dia keluarkan. Aku bangun dari tidur ku. Gerakan tubuh ku membuat sedikit bunyi yang dikeluarkan oleh kasur ku. Sontak dia menoleh ke arah ku. Segera mungkin dia mendatangi ku yang duduk di atas tempat tidur.
"Kau sudah sadar ?", tanya dia dengan wajahnya yang tampak lega melihat ku.
Aku hanya menangguk memberikan jawaban. Tangannya seketika menyentuh pelipis ku.
Dug!
Jantung ku mulai berdetak kencang lagi. Aku menahannya. Aku tidak ingin membuatnya khawatir.
"Ah. Badan kamu tidak panas ? Apa ada yang sakit ?"
Aku menggeleng memberikan jawaban.
"Syukurlah", ucapnya lega
Hening sesaat. Aku memperhatikan dia yang sedang memainkan seprai kasur ku. Beberapa detik kami berdiam. Dia akhirnya membuka pembicaraan.
"Ohya. Kamu sudah makan ? Aku tadi di sekolah tidak makan bekal ku karena kamu tidak datang ke sekolah"
"Belum"
Pelangi terbalik itu terlukis kembali di wajahnya. "Ayo kita makan bekal ku bersama", ajaknya sambil. Dia berlari mengambil tas kecilnya. Lalu mengeluarkan bekal yang dia bawa.
Seperti biasa. Dia membawa roti sandwich buatan Ibunya. Dia menyodorkan bekalnya kepadaku. Aku mengambil 1 roti lapis itu dan memakannya. Aku dan dia saling bertatap sambil memakan roti lapis itu. Lucu sekali melihat pipinya yang besar dengan roti lapis di dalam mulutnya. Aku tertawa kecil melihat wajahnya. Dia memasang wajah 'ada apa ?'. Aku berhenti tertawa dan menelan roti yang sudah ku kunyah.
"Wajah mu... Pipi mu besar dengan roti lapis dalamnya", aku menjelaskan sambil tertawa kecil.
Seketika wajahnya merah padam. Dia tersenyum malu. Aku melihat wajahnya yang kini semakin lucu menurut ku. Namun entah mengapa hal lucu itu berubah menjadi sesuatu yang hangat di dalam dada ku. Rasanya ada yang mebalut dada dengan hangat.
Aku memperhatikannya. Pelangi terbalik itu masih ada pada tempatnya. Namun kini agak berbeda. Dia sedikit malu untuk menyombongkan keindahannya. Tanpa disadari tangan ku mulai mendekati pelangi terbalik itu. Berharap untuk bisa merasakan keindahan yang dimilikinya. Sang pemilik pelangi itu masih tidak menyadari bahwa tangan ku mulai mendekati pelangi miliknya. Aku hampir sampai. Aku hampir bisa merasakan sedikit apa yang membuatnya bisa begitu indah.
Tiba-tiba saja sang pemilik pelangi itu terkejut dengan adanya tangan ku yang mendekatinya. Roti yang dia pegang seketika terjatuh ke baju putih yang dia kenakan. Pandangan ku seketika ke arah jatuhnya roti lapir itu. Bajunya kotor dengan noda saus dan mayones dari roti lapis itu. Aku mencoba untuk membersihkannya.
"Tidak usah. Biar aku saja yang membersihkannya. Tidak apa-apa", ujarnya sambil membersihkan baju putihnya.
Aku memperhatikan dia membersihkan seragamnya. Mata ku beralih ke name tag yang terdapat pada seragamnya. Nurfan Putra. Aku tersenyum senang dengan apa yang sudah ku dapat. Kini aku tahu nama dia. Dia Nurfan. Nurfan. Si pemilim pelangi terbalik yang indah itu. Aku tersenyum sendiri sambil melihat name tag yang dia kenakan.
"Ohiya sudah jam berapa sekarang ?", tanyanya tiba-tiba membuatkan tersadar dari lamunankan.
Kepala ku menengak ke arah jam. "Jam 2", ucapku spontan.
"Aduh gawat!!", ucapnya tiba-tiba.
"Ada apa ?", tanya ku. Dia tidak menjawab pertanyaanku. Dia sibuk membereskan buku-buka yang tadi dia keluarkan. Lalu memasukan kotak bekalnya ke dalam tas.
"Marwa! Besok kamu akan datang sekolah ?", tanya Nurfan.
Aku sungguh tidak yakin. Aku takut bila hal yang membuatku begitu semangat untuk ku dapatkan malah tidak bisa ku dapatkan seperti halnya pagi tadi.
"Kamu besok datang ke sekolah kan ?", tanya Nurfan sekali lagi.
Kepala dengan spontan mengangguk tanpa dikomando. "Baiklah. Akan aku tunggu kamu di sekolah. Sampai ketemu besok", dia berlalu begitu saja.
Aku masih tidak mengerti akan hal yang sudah terjadi. Aku masih terdiam duduk di tempat tidurku. Terdengar suara bibi yang bertanya kepada Nurfan. Aku beranjak dari tempat tidurku. Lalu berlari ke arah jendela. Aku melihatnya yang berlari ke arah gerbang. Sebelum dia menutup gerbangnya. Dia menoleh ke arah jendela kamar ku. Dia tersenyum dan melabaikan tangannya ke arah ku. Tanpa aku sadari, aku tersenyum ke arahnya tanpa membalas lambaian tangan yang dia berikan. Dia berlalu begitu saja.